"Dana yang dibutuhkan untuk kegiatan overlay Bandara Warukin memang cukup besar karena itu kita mengharapkan dukungan dana dari Kementerian Perhubungan agar bisa untuk pendaratan pesawat jenis ATR 72," kata Ady di Tanjung, Senin.
Selain kegiatan overlay, rencana pengembangan bandara satu-satunya di Benua Enam ini termasuk renovasi bangunan serta menyusun masterplan untuk jangka waktu sampai dengan 25 tahun dengan rencana panjang runway 2.200 meter.
Ady menambahkan hingga saat ini kegiatan overlay belum bisa direalisasikan dan rencananya pengembangan maupun pengoperasian bandara ini dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) melalui anak perusahaan PT Pelita Air Service.
"Sebenarnya tidak jadi masalah jika pengelolaan bandara dilakukan oleh PT Pertamina asalkan sarana transportasi udara ini bisa dimanfaatkan masyarakat bukan lagi menjadi bandara khusus," jelas Ady.
Mengingat keberadaan bandara ini diharapkan bisa memberikan dampak positif terhadap perkembangan Kabupaten Tabalong yang berbatasan dengan provinsi Kalimatan Tengah dan Kalimantan Timur.
Sebelumnya Pemkab Tabalong berencana ingin membeli aset bandara Warukin melalui surat tertulis nomor
B.968/DPKKD/KD/030/05/2014 yang ditujukan kepada Direktur Umum PT Pertamina (Persero).
Kemudian pada 10 Februari 2016, PT Pertamina (Persero) melayangkan pemberitahuan tertulis dalam Surat
Nomor.034/K00000/2016-SO yang ditandatangani Direktur SDM dan Umum PT Pertamina (Persero) Dwi W Daryoto terkait rencana pengembangan dan pengoperasian Bandara Warukin Tanjung melalui anak perusahaan PT Pelita Air Service.
"Pihak Pelita Air rencananya akan melakukan penjajakan sekaligus koordinasi dengan pemerintah daerah terkait rencana pengembangan bandara Warukin pada akhir bulan ini," ungkapnya.
Pewarta: Herlina LasmiantiEditor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.