Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhan Adpel Banjarmasin Dody Triwahyudi di Banjarmasin, Selasa mengatakan, sejak alur Barito lancar aktivitas lalu lintas angkutan laut meningkat tajam.
Hal itu, kata dia, menyebabkan tumpukan peti kemas di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin makin sulit diatasi. Pihaknya terpaksa memberikan batas waktu menumpuk bagi pengusaha atau pedagang hanya lima hari.
"Kita hanya memberikan kesempatan lima hari bagi penumpukan peti kemas dipelabuhan setelah itu apapun alasannya harus keluar," katanya.
Peraturan tersebut, kata dia, terpaksa diterapkan untuk menghindari kemacetan dan kesemrawutan arus ke luar masuk barang dipelabuhan.
Saat ini kedatangan arus peti kemas di Pelabuhan Trisakti mencapai 260.000 teus pertahun atau jauh lebih besar dibanding sebelumnya yang hanya sekitar 220.000-230.000 teus per tahun.
Menurut dia, kendati saat ini terminal peti kemas Pelabuhan Trisakti telah beroperasi namun belum mampu mengatasi penumpukan yang makin hari makin banyak.
Satu-satunya jalan mengatasi kondisi tersebut, kata dia, adalah dengan segera membangun depo peti kemas disekitar Banjarmasin.
"Sayangnya hingga kini belum ada pengusaha yang bersedia berinvestasi dibidang tersebut karena nilai investasi yang harus dikeluarkan cukup besar," katanya.
Namun bila kondisi sudah tidak memungkinkan diyakini akan ada pengusaha segera membangun depo peti kemas karena didesak kebutuhan.
Selain masalah tersebut diatas, kata dia, belum adanya peraturan tentang truk angkutan dipelabuhan juga menyebabkan terjadinya kesemrawutan arus lalu lintas.
Saat ini, kata dia, begitu ada kapal "roll on roll off" (Roro) maka truk angkutan yang berada di dalam kapal langsung keluar tanpa masuk ruang karantina atau ruang pemeriksaan.
Hal itu mungkin untuk memberikan kelonggaran kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab menyalahgunakan ketentuan angkutan barang.
Sebelumnya Kepala Administrator Pelabuhan (Adpel) Banjarmasin Kapten Sufrisman Djaffar mengatakan arus barang yang masuk ke Banjarmasin dalam satu tahun terakhir meningkat cukup signifikan.
Pada 2008 jumlah boks peti kemas yang masuk ke Pelabuhan Trisakti mencapai 230.000 teus jauh meningkat dibanding 2007. Pada 2009 menjadi 260.000 teus lebih.
Kelancaran alur Barito tidak didukung persiapan fasilitas pelabuhan sehingga saat proyek pengerukan selesai beberapa permasalahan tetap terjadi.
Permasalahan tersebut diantaranya terjadi penumpukan barang dipelabuhan karena pembangunan terminal peti kemas dengan biaya sekitar Rp100 miliar baru saja selesai.
"Kalau daerah lain jumlah peti kemas mencapai 100.000 boks sudah siap dengan terminal kontainer tetapi di Banjarmasin hingga 230.000 boks baru memiliki terminal," kata Sufrisman.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.