Biasanya orang tua cenderung tidak lagi membawa anaknya keposyandu untuk diberikan vaksin polio 4 karenaberbagaisebab, sehingga pemberian vaksin polio tidak lengkap dan anak masih rentan jika terjadi penularan polio,â€
Amuntai, (Antaranews Kalsel) – Dinas Kesehatan Hulu Sungai Utara waspada terhadap ancaman penyakit Polio (Poliomielitis) dengan mengupayakan pemberian imunisasi secara lengkap.
Kepala seksi Pengamatan dan Pencegahan Penyakit pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten HSU Karmila Sari di Amuntai, Kamis, mengatakan dari sebanyak 3999 anak yang harus diberikan vaksin polio 4 diperkirakan hanya sekitar 87 persen yang tervaksin, sisanya sekitar 500 anak masih rentan tertular polio.
"Biasanya orang tua cenderung tidak lagi membawa anaknya keposyandu untuk diberikan vaksin polio 4 karena berbagai sebab, sehingga pemberian vaksin polio tidak lengkap dan anak masih rentan jika terjadi penularan polio," ujar Karmila.
Meskipun, kata Karmila, kasus polio belum ditemukan di Kabupaten HSU, namun tidak menutup kemungkinan penularan polio terjadi jika tidak dilakukan upaya pencegahan dan antisipasi sejak dini melalui pemberian imunisasi lengkap.
Ia mengatakan, kemungkinan kasus polio bisa muncul disuatu wilayah bisa melalui berbagai sebab, seperti belum meratanya cakupan imunisasi polio 4 di bebera pawilayah, perubahan vaksin menjadi bibit penyakit meski kasus ini jarang terjadi serta penularan melalui lintas negara.
"Kita patut khawatir penularan polio dari lintas negara, karena cukup banyak warga Hulu Sungai Utara yang bekerja di luar negeri, seperti di Negara-negara Arab," katanya.
Karmila menuturkan, Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio di Jawa Barat tahun 2005 ternyata bermula dari kedatangan WNI dari Arab Saudi yang bermukim di daerah bantaran sungai di Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi`
WNI yang tengah hamil ini, sambungnya, kemungkinan karena beraktivitas mandi cuci kasus (MCK) di sungai dengan cepat menularkan virus polio kepada masyarakat yang menggunakan air sungai, karena penularan polio melalui mulut dan pernafasan, maka dalam waktu singkat KLB Polio terjadi di 47 kabupaten/kota di 10 propinsi waktu itu.
"Berkaca dari kasus tersebut sepatutnya kita selalu waspada terhadap ancaman penyakit polio, salah satu caranya yakni dengan memberikan imunisasi lengkap kepada anak," kata Karmila.
Meskipun, katanya,sudah diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 42 tahun 2013 tentang penyelenggaraan imunisasi yang diantaranya mengharuskan WNI yang datang dan pergi ke negara endemis polio harus mengantongi sertifikat bebas dari membawa gen penyakit Polio ini.
"Namun Permenkes ini hanya diperuntukan pada negara-negara endemis, sedangkan negara yang tidak endemis tidak diharuskan, padahal kemungkinan gen penyakit ini dibawa dari negara yang bukan endemis bisa saja terjadi,†tandasnya.
Ia mencontohkan, seperti Nigeria termasuk yang belum dinyatakan bebas polio (eridikasi), sementara banyak warganya yang bepergiaa nke negara-negara Arab, berbaur dengan berbagai warga yang berasal dari negara lain, termasuk dari Indonesia.
"Pernah juga terjadi kasus anak terkena polio karena perubahan vaksin polio yang diberikan pada anak yang kebetulan kondisi si anak sedang lemah daya tahan tubuh atau imunitasnya, namun kasus ini sangat kecil kemungkinan terjadinya,â€kata Karmila.
Meski demikian, katanya Kemenkes mengantisipasi kasus ini agar tidak terulang, yakni setelah pelaksanaan PIN 2016, Kemenkes akan mengganti jenis vaksin polio dari EOVP menjadi L.OVP serta melakukan introducing IPV (Inautif Polio Vaksin) keimunisasi rutin.
Pewarta: Eddy AbdillahEditor : Eddy Abdillah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.