Pemerintah  Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, mengimbau masyarakat waspada aksi oknum pedagang yang menjual ayam mati sebelum disembelih atau "tiren", bersamaan meningkatnya permintaan ayam pada bulan Ramadhan 1432 Hijriyah.


"Kita imbau masyarakat waspada terhadap ulah oknum pedagang yang menjual ayam "tiren" demi mendapatkan keuntungan pribadi dan justru merugikan pembeli," kata Wakil Wali Kota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli di Banjarbaru, Rabu.

Menurut dia, banyaknya permintaan masyarakat terhadap kebutuhan daging baik daging ayam maupun daging sapi selama Ramadan tidak menutup kemungkinan dimanfaatkan oknum pedagang menjual barang tidak layak konsumsi.

"Seperti ayam "tiren" yang sebenarnya tidak layak konsumsi karena sudah mati baru disembelih tetapi tetap dijual pedagang karena mereka tidak ingin rugi sepihak," ujarnya.

Selain ayam, pihaknya juga menghimbau masyarakat waspada sehingga tidak membeli daging sapi "gelonggongan" yang juga tidak layak konsumsi karena dagingnya mudah busuk.

Dijelaskan, pembusukan daging "gelonggongan" terjadi karena dimasukkannya air ke dalam daging sapi untuk menambah berat sehingga harga jual lebih tinggi.

"Daging "gelonggongan" juga tidak layak konsumsi karena mudah busuk akibat banyaknya air yang masuk ke dalam daging sehingga masyarakat harus waspada," pesanya.

Sejauh ini, kata dia, pihaknya masih belum menerima laporan adanya oknum pedagang di sejumlah pasar di Banjarbaru yang menjual ayam "tiren" maupun daging sapi gelonggongan.

Namun, ia mengharapkan kewaspadaan masyarakat harus ditingkatkan sehingga tidak mengkonsumsi makanan yang kurang terjamin kebersihannya sehingga bisa mengganggu kesehatan.

Dikatakan, pihaknya siap menyikapi jika ada temuan penjualan ayam "tiren" maupun daging "gelonggongan" sehingga masyarakat tidak dirugikan akibat ulah oknum pedagang tersebut.

"Kami siap menurunkan tim terpadu ke lapangan melakukan razia ke pasar-pasar untuk memastikan tidak adanya penjualan ayam "tiren" dan daging "gelonggongan" sehingga masyarakat tidak dirugikan," katanya.(zal/B)




Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026