Perdagangan hampir di seluruh sektor kini sedang turun, bukan hanya di pasar, tetapi juga tingkat hunian hotel, pajak kendaraan, ekspor dan lainnya, juga turun semua,
Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalimantan Selatan Farida Wariansi mengatakan saat ini daya beli masyarakat sedang turun sehingga mempengaruhi kinerja perdagangan hampir di seluruh sektor.

"Perdagangan hampir di seluruh sektor kini sedang turun, bukan hanya di pasar, tetapi juga tingkat hunian hotel, pajak kendaraan, ekspor dan lainnya, juga turun semua," katanya.

Menurut Farida, turunnya daya beli masyarakat tersebut, antara lain di pengaruhi menurunnya ekspor di Kalsel, sehingga menyebabkan tingkat pengangguran meningkat.

Bukan hanya daya beli masyarakat yang turun, tambah dia, pendapatan pajak pemerintah juga turun akibat melemahnya perekonomian global saat ini.

Sebelumnya diberitakan, target pajak daerah pada APBDP Kalsel 2015 melambat dampak dari pertumbuhan ekonomi yang melambat, di tingkat nasional maupun regional.

Kondisi tersebut, mendorong terjadinya pertumbuhan negatif terhadap kendaraan bermotor (ranmor) baru, terutama roda empat, serta konsumsi bahan bakar di sektor pertambangan dengan tarif bahan bakar minyan (BBM) non subsidi.

Hal tersebut mempengaruhi penerimaan di sektor pajak daerah, terutama Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB).

Mengatasi hal tersebut, Pemprov Kalsel berupaya menggali sumber pendapatan daerah yang berasal dari pemanfaatan asset yang dipisahkan, dalam hal ini pemberdayaan terhadap Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Pada RAPBD Perubahan Kalsel 2015 itu, pendapatan sesudah perubahan sebesar Rp4.887.311.158.000, dan belanja setelah perubahan Rp5.623.342.236.930, berarti terdapat selisih kurang atau defisit Rp736.031.078.930.

Nilai ekspor melalui pelabuhan di Kalimantan Selatan bulan November 2015 mencapai 369,56 juta dolar As atau turun 4,22 persen dibanding ekspor bulan Oktober 2015 yang mencapai 385,85 juta dolar AS dan turun 42,20 persen jika dibandingkan dengan nilai ekspor bulan November 2014 yang mencapai 639,37 juta dolar AS.

Turunnya daya beli masyarakat ini, berimbas besar pada produksi industri kecil dan menengah yang juga turun drastis.

Pengusaha tahu di Pasar Anyar Sarah mengatakan, biasanya dia memproduksi tahu hingga 12 kwintal, namun sejak beberapa hari terakhir, terpaksa produksinya dikurangi karena sering tidak habis.

"Sekarang produksi delapan kwintal saja, tidak habis," katanya mengeluhkan sepinya pembeli sejak beberapa hari terakhir.

Hal yang sama juga disampaikan pedagang Jagung, yang menyatakan biasanya pendapatan dari penjualan jagung, hingga jutaan, pada Kamis (14/1) pagi baru mendapatkan pemasukan Rp20 ribu.

Begitu juga dengan pedagang sayur mayur yang mengaku sejak beberapa hari terakhir juga berhenti belanja ke tengkulak, karena jualannya tidak habis terjual.

Distributor tepung di Banjarmasin Kusnadi mengungkapkan, sejak beberapa pekan terakhir, permintaan tepung juga turun drastis.

"Banyak pengusaha mengurangi permintaan tepung, bahkan beberapa diantaranya, memilih tidak menyetok tepung, karena pasaran sepi," kata Kusnadi.

Pewarta: Ulul Maskuriah
Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026