Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Banjarbaru, Aus Al Kausar mengungkapkan, sekitar ribuan hektare tanaman padi di Kalimantan Selatan pada 2009 mengalami puso.
       
Namun penyebab puso tanaman padi di Kalsel itu terbanyak karena bencana alam banjir, sedangkan akibat organisme pengganggu tanaman (OPT) lebih kecil, ungkapnya di Banjarbaru (30 Km utara Banjarmasin), Minggu.
       
Ia menyebutkan, tanaman padi yang puso karena bencana alam banjir itu tercatat 4.000 hektare dan disebabkan OPT seluas 7,5 ha, tersebar di kabupaten/kota se Kalsel.
       
Mengenai hama tanaman padi di Kalsel, dia mengungkapkan ada tiga besar yang harus menjadi perhatian bersama yakni hama tikus, penggerek batang dan wereng. Sedangkan yang bersifat penyakit, pada umumnya berupa psikologis tanaman, seperti tingkat keasaman tanah yang tinggi.
        
Menurut dia, untuk mengatasi penyakit psikologis tanaman tersebut, antara lain bisa dengan memberi kapur secukupnya terhadap tanah yang tingkat keasamanannya tinggi atau melalui pengolahan secara baik dan benar.
        
Oleh sebab itu, petani harus mendapatkan bimbingan dan penyuluhan dalam upaya memberantas hama dan penyakit tanaman, disamping pengetahuan sistem pertanian yang baik dan benar.
        
Untuk itu, Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Banjarbaru dengan wilayah operasi Kalsel, tiap tahun membuka penyuluh sekolah lapang pengendalian hama terpadu.
        
Sebagai contoh melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kalsel 2010 ada 60 unit sekolah lapang pengendalian hama terpadu dan tiap unit sebanyak 25 orang.
        
Begitu pula melalui dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2010 ada 72 unit sekolah lapang pengendalian hampa terpadu, demikian Aus Al Kausar.


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026