"Apalagi kondisi Sekolah Luar Biasa (SLB) yang menyediakan pendidikan hingga tingkat lanjutan atas tersebut kini sudah kurang layak karena termakan usia," ujar anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Kalteng itu di Banjarmasin, Rabu.

 Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Anggota Komisi IV bidang kesejahteraan rakyat DPRD Kalimantan Selatan H Puar Junaidi menyatakan, Sekolah Luar Biasa Telag Biru Banjarmasin membutuhkan perhatian.


 "Apalagi kondisi Sekolah Luar Biasa (SLB) yang menyediakan pendidikan hingga tingkat lanjutan atas tersebut kini sudah kurang layak karena termakan usia," ujar anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Kalteng itu di Banjarmasin, Rabu.

 Namun, lanjut mantan Ketua Komisi A bidang hukum dan pemerintahan DPRD Kalsel itu, perlu ada kejelasan status SLB tersebut, apakah milih atau di bawah pengelolaan pemerintah provinsi (Pemprov) ataukah pemerintah kota (Pemkot) Banjarmasin.

 Kejelasan status itu perlu, guna perencanaan anggaran dan tidak salahkan, lanjut anggota DPRD Kalsel tiga periode dari Partai Golkar tersebut.

 SLB Telaga Biru yang berada dekat tepian Sungai Barito itu sebelumnya milik Pemkot Banjarmasin, tapi seiring keluarnya Undang Undang (UU) Nomor 23 tahun 2014, sekolah tersebut belakangan seakan tak bertuan.

 Pasalnya, menurut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin itu, Pemkot setempat tak mengganggarkan, baik untuk rehab maupun membangun baru SLB tersebut pada APBD Perubahan tahun 2015 serta RAPBD 2016.

 Karena sesuai UU 23/2014 itu, pengelolaan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) akan diambil alih Pemprov, sehingga Pemkot Banjarmasin seakan lepas tangan terhadap SLB Telaga Biru tersebut.

 Menanggapi pernyataan Kepala Disdik Kota Banjarmasin tersebut, mantan Ketua Komisi III bidang pembangunan dan infrastruktur DPRD Kalsel itu menyayangkan atas pembiaran terhadap SLB Telaga Biru.

 Semestinya, menurut Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kalsel itu, Pemkot Banjarmasin lebih memperhatikan pendidikan, seperti mendahulukan penanganan SLB Telaga Biru daripada membangun patung bekantan (kera hidung panjang). 

 "Membuat patung bekantan yang merupakan maskot fauna Kalsel itu mungkin juga perlu sebagai daya tarik wisatawan atau pengenalan binatang langka yang terancam punah, tapi lebih pendidik lagi membangun sarana dan prasarana pendidikan," ujarnya.

 "Terlebih lagi dalam kondisi anggaran terbatas, maka sebaiknya lebih memrioritaskan pendidikan sebagai bagian dari `human invesment` untuk kehandalan generasi bangsa mendatang," demikian Puar Junaidi.   

Pewarta: Syamsudin Hasan
Editor : Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026