Bantuan bibit unggul disalurkan kepada petani untuk peremajaan di lahan seluas 22 hektar,"Amuntai, (Antaranews Kalsel) - Perkebunan karet di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, perlu diremajakan karena usianya rata-rata sudah mncapai 40 tahun sehingga tidak memungkinkan lagi dikembangkan.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Kehutanan, Perkebunan, Energi, dan Sumber daya Mineral Kabupaten Hulu Sungai Utara Fahmi Rizaini di Amuntai, Sabtu mengatakan pihaknya mendorong petani karet agar melakukan peremajaan karet dari bantuan bibit unggul yang disalurkan
"Bantuan bibit unggul disalurkan kepada petani untuk peremajaan di lahan seluas 22 hektar," kata Fahmi.
Fahmi mengatakan pemerintah berharap petani karet merespon rencana peremajaan ini meski butuh biaya lebih besar dibanding upaya perluasan lahan tanaman karet.
"Kalau peremajaan karet tentu perlu biaya lebih besar, karena harus melakukan penebangan pohon yang sudah tua, sedang perluasan cukup melakukan penanaman di lahan yang masih kosong," katanya.
Namun, kata Fahmi Indonesia terikat perjanjian tiga negara produsen karet terbesar di dunia, agar tidak melakukan perluasan tanaman karet, melainkan hanya peremajaan.
Dijelaskan, tiga negara penghasil karet terbesar di dunia, yakni Indonesia, Thailand dan Malaysia telah menandatangani kesepakatan bersama untuk tidak lagi melakukan perluasan tanam karet di negara masing-masing.
Fahmi menginformasikan jika lahan perkebunan karet di Kabupaten Hulu Sungai Utara hanya seluas 717,7 ha yang dikembangkan di dua kecamatan, yakni Banjang dan Amuntai Utara.
Luas lahan tanaman karet di Kecamatan Banjang seluas 450,71 ha, terdiri tanaman belum menghasilkan (TBM) seluas 377,71 ha dan Tanaman Menghasilkan (TM) seluas 73 ha.
Sedang luas tanaman karet di Amuntai Utara 267 ha, terdiri TBM seluas 155 ha dan TM seluas 112 ha.
Melihat luas tanaman karet tersebut, luas lahan yang bisa untuk diremajakan petani seluas 185 ha, yakni tanaman yang sudah menghasilkandan sudah berumur 30 -40 tahun.
Seluruh tanaman karet tersebut, lanjutnya dikelola oleh masyarakat petani, sedang sebagian lagi dikelola perusahaan investor di Kecamatan Banjang.
Upaya mendorong petani melakukan peremajaan karet ini agak sulit dilakukan, karena harga karet yang tengah menurun saat ini akibat kualitas karet yang masih rendah dan kalah bersaing dengan negara lain di Asia tenggara.
"Produksi karet di Kabupaten Hulu Sungai Utara pada 2014 sebesar 227 ton dengan rata-rata peningkatan produksi hanya 5 - 10 ton pertahun" katanya.
Ia mengakui, jika lahan tanaman karet di Hulu Sungai Utara adalah terkecil dibanding kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Selatan.
Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara yang 89 persen di dominasi lahan rawa kurang cocok untuk pengembangan karet, jika pun perlu dikembangkan perlu biaya besar untuk pengaturan lahan.
"Butuh biaya tinggi untuk pengembangan perkebunan karet di HSU karena lahan kita rawa," tambahnya.
Sedangkan di Kecamatan Banjang dan Amuntai Utara, kata dia, memiliki dataran yang lebih tinggi sehingga bisa dikembangkan tanaman karet.
Padahal sekitar sepuluh tahun lalu, tutur Fahmi, tanaman karet juga dikembangkan petani di Kecamatan Sungai Pandan-Alabio namun kini lahan-lahan karet tersebut sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian.
Untuk upaya peremajaan tanaman karet ini, tuturnya Dinas Kehutanan, Perkebunan, Energi dan SDM hanya menyalurkan bantuan hibah berupa bibit tanaman.
"Bantuan bibit tanaman ini berasal dari dana APBD Provinsi Kalsel dan APBD Hulu Sungai Utara," katanya.
Sedang untuk rencana pengelolaan bantuan pupuk untuk petani karet sedang disusun Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) untuk penyaluran bantuan pupuk, karena tidak semua petani karet mampu membeli pupuk yang harganya cukup mahal.
Bantuan bibit hanya disalurkan apabila ada permohonan tertulis dari kelompok petani karet yang selanjutnya disampaikan kepada instansi terkait di tingkat provinsi.
Pewarta: Eddy AbdillahEditor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.