Selain memasang "oil boom", sebanyak 50 personel PT Pertamina yang diturunkan ke lokasi kebocoran juga membuat "temporary pit" untuk menampung minyak yang tumpah, kata Kepala Bagian Humas PT Pertamina Tanjung Noor Erfansyah, di Tanjung, Jumat.
Ia menyebutkan, pemasangan oil boom dilakukan sebagai upaya meminimalisasi areal penyebaran minyak di lokasi kebocoran.
"Upaya teknis sudah kami lakukan sejak hari pertama kebocoran, baik itu berupa penyedotan minyak, pembuatan 'temporary pit' hingga pemasangan oil boom untuk meminimalisasi penyebaran minyak," ujar Erfansyah.
Selain melibatkan puluhan tenaga teknis, penanganan kebocoran pipa di Kampung Maliau juga menurunkan sejumlah tenaga medis dan petugas pemadam kebakaran.
Hingga Jumat, PT Pertamina terus melakukan penyedotan dan pembersihan minyak termasuk pengambilan ceceran minyak di hamparan air.
"Selama 24 jam truk penyedot memindahkan tumpahan minyak ke empat mobil tangki untuk ditransportasikan ke tempat penampungan," katanya.
Wasto, petugas lapangan PT Pertamina Tanjung menyebutkan, 50 personel yang dikerahkan terpaksa bertahan sementara di rumah-rumah warga karena harus bekerja nonstop secara bergantian.
"Penyedotan dan pembersihan minyak sampai hari ini masih terus berlangsung, dan sekitar 50 personel masih bekerja di lapangan, baik dari tim teknis maupun pemadam kebakaran," kata Wasto menjelaskan.
Tiga kolam penampungan, lanjut Wasto, juga telah dibuat untuk mengurangi genangan minyak, yang masing-masing berukuran 20 X 3 meter dengan kedalaman dua meter.
Sedangkan 15 kepala keluarga (KK) yang rumahnya terkena dampak langsung dari tumpahan minyak, masih bertahan di tempat pengungsian atau di rumah milik warga lainnya.
"Warga yang terkena dampak langsung sudah kami berikan kompensasi, yakni makan tiga kali sehari karena mereka tak bisa melakukan kegiatan memasak, termasuk untuk kebutuhan air bersih," ujarnya.
Wasto memperkirakan kegiatan penyedotan dan pembersihan tumpahan minyak tersebut akan berlangsung hingga minggu depan, mengingat estimasi jumlah tumpahan yang mencapai 150 ribu barel.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.