Warga yang tinggal pada 20 balai Warga adat terpencil di Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah masih buta aksara.
Pengajar Keaksaraan Fungsional (KF) Ir David dari Lembaga Bina Potensia mengungkapkan masih besarnya jumlah buta aksara di daerah terpencil, menggugah perhatian dan kepedulian lembaganya untuk membantu melakukan belajar mengajar di daerah tersebut.
"Kita juga dibantu mahasiswa dari STAI Al Washliyah Barabai untuk ikut memberikan pengetahuan membaca, menulis dan berhitung bagi warga," katanya.
Menurut dia, satu balai meliputi sekitar 20 hingga 25 kk, mereka yang buta aksara dari remaja hingga dewasa dikarenakan masih minimnya akses pendidikan yang tersedia.
Program Keaksaraan Fungsional (KF), kata dia yang bersumber dari dana yang diusulkan melalui Dinas Pendidikan Provinsi Kalimanan Selatan dan kabupaten.
Sedangkan program belajar mengajar dilakukan seminggu dua kali dengan dibantu warga sekitar yang telah melek huruf.
"Baru empat balai yang terdiri dari 80 peserta, dengan jumlah bantuan dana pembelajaran Rp7 juta per kelompok belajar.
Menurut David, proses belajar mengajar tidak bisa dilakukan setiap hari karena menuju pemukiman warga terpencil, berjarak 25 kilo meter dari Barabai sementara menuju balai tempat belajar hanya dapat ditempuh dengan roda dua atau bila musim hujan harus dengan jalan kaki.
"Kami bersyukur dengan sambutan masyarakat yang antusias untuk belajar, mereka senantiasa menunggu kedatangan kami dan meninggalkan segala keperluan lainnya demi belajar, dan apabila kami tak hadir selalu ada warga yang memesankan untuk segera datang," katanya.
Usia peserta didik, kata dia tak dibatasi dari remaja hingga umur 70 tahun ikut belajar, begitupun untuk perlengkapan belajar yang bersumber dari Program KF disediakan alat tulis dan buku bagi peserta, papan tulis, spidol dan penghapus.
Jadwal Pelajaran, kata dia dilakukan pada malam hari mengingat siang harinya warga sibuk melakukan panen padi tugalan dan berkebun.
"Biasanya kalau kita datang, salah satu warga segera memanggil warga lainnya untuk berkumpul di balai dengan penerangan lampu minyak tanah atau pun genset," tambahnya.
Tempat pembelajaran, kata dia antara lain di Balai Papagaran, Balai Cabai dan Pantai Ramang dan karena berat dan sulit ditempuh medannya saat hujan lebat para pengajar kadang terpaksa harus menginap di balai tersebut.
Gazali Rahman seorang Pengajar mengatakan saat ini masih banyak warga terpencil yang terisolasi dari akses pendidikan, bukannya tak peduli pendidikan untuk menuju satu tempat saja dengan tempat lainnya warga mesti berjalan hingga berhari-hari lamanya begitu pun sarana pendidikan di daerah terpencil masih minim bahkan tak ada.
Data jumlah balai, kata dia dari 20 Balai dimana satu balai meliputi 20 kk berarti masih ratusan warga yang buta aksara dan data ini masih untuk kecamatan Hantakan belum lagi Kecamatan Batang Alai Timur yang belum tersentuh program KF dari LBP.
"Kami mewakili Warga terpencil sangat mengharapkan agar dapat diberikan porsi pendidikan yang mencukupi bagi warga terpencil, sehingga daerah yang belum tersentuh pendidikan juga dapat merasakan pembangunan yang merata dan tak terkonsentrasi di daerah perkotaan saja"katanya.
Tokoh Masyarakat Haruyan Dayak Mansuni mengungkapkan penghargaan bagi para pengajar yang bersedia untuk mengajar warganya di daerah terpencil bahkan untuk menunjang keberhasilan program KF dirinya bersedia untuk menjadikan rumahnya tempat menginap dan istirahat para pengajar.
Para Pengajar KF, kata dia saat ini yang aktif antara lain Ir Muhammad David, Gazali Rahman, Budianto dan Hairani serta terdapat empat kader pengajar dari warga terpencil ikut mengajar setelah dibina LBP dari program Pendidikan Alternatif yang dilaksanakan sebelum KF.
Kemajuan Hasil Pembelajaran, kata dia terlihat dari mulai mengertinya warganya dengan perhitungan, menulis dan membaca huruf latin dengan pembelajaran yang komunikatif dan menarik bahkan sekarang warganya yang sudah lanjut usia pun mengerti hitungan jam.(Fat/B)
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.