"Pemberitaan ANTARA harus mendidik dan mencerdaskan bangsa, bukan yang membuat masyarakat resah atau menyulut emosional," lanjutnya di Biro ANTARA Kalimantan Selatan, sebelum kembali ke Jakarta, Jumat (20/5).
Selain itu, tak ikut-ikutan larut dalam pemberitaan tidak senonoh terhadap yang merupakan lambang negara, seperti presiden dan wakil presiden, pasannya didampingi urusan daerah LKBN ANTARA, Erafzon.
Sebagai pemberitaan yang bisa meresahkan masyarakat dan nyaris tak ada manfaat, seperti berita "di daerah sana ada kolor ijo" dan sejenisnya.
Contoh pemberitaan yang tak senonoh atau tidak layak, seperti ikut-ikutan dengan massa yang melakukan aksi menyebut pejabat yang merupakan lambang negara sebagai maling.
Begitu pula dalam memberi varia warna pemberitaan yang berkaitan dengan orang, hendaknya jangan ada kesan sebagai penghinaan dan terlalu jauh menyinggung pribadi.
Namun hal lain yang tak kalah pentingnya, pewarta LKBN ANTARA harus betul-betul memperhatikan akurasi dan ketelitian dalam membuat berita agar jangan sampai salah, apalagi kesalahannya cukup fatal.
Oleh sebab itu, teliti kembali sebelum melepas berita tersebut dan kalau tidak tahu, hendaknya jangan malu bertanya kepada orang yang dianggap mengetahui atau nara sumber, pesannya.
Hal lain yang harus menjadi perhatian, yaitu kecepatan dalam pemberitaan/pengiriman berita, misalnya berita sebuah kejadian, kalau bisa paling lambat 15 menit kemudian harus sudah diberitakan.
"Karena akurasi dan kecepatan berita akan membuat citra serta kepercayan orang terhadap kita. Untuk itu ANTARA hendaknya yang terdepan," demikian Saiful Hadi.
Kedatangan Direktur Pemberitaan Perum LKBN ANTARA secara pribadi itu ke Banjarmasin menghadiri seminar "Perjuangan DR KH Idham Chalid" yang diselenggarakan Dinas Sosial Kalsel, Kamis (18/5) lalu.
Seminar tersebut dalam rangka menghimpun masukkan guna pengusulan ayahda dari Saiful Hadi tersebut kepada pemerintah pusat untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional./shn*C
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.