Sebanyak 79 siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Banjarbaru dikarantina selama ujian nasional berlangsung.
Kepala Sekolah SMKN 3, Rosehan Anwar di Banjarbaru, Senin, mengatakan selama menjalani masa karantina siswa diminta menginap di sekolah.
"Ada 79 siswa kelas III yang menjalani masa karantina yakni menginap di sekolah selama ujian nasional berlangsung," ujar Kepala Sekolah SMKN 3, Rosehan Anwar di Banjarbaru, Senin.
Menurut dia, kebijakan mengkarantina seluruh peserta ujian nasional dengan cara menginap di sekolah itu dilakukan untuk mempermudah siswa datang ke sekolah sehingga tidak terlambat mengikuti ujian.
Ia mengatakan, tempat tinggal siswa relatif cukup jauh dari sekolah yang berlokasi di Jalan Aneka Tambang Kelurahan Cempaka Banjarbaru sehingga dikhawatirkan ada yang terlambat ke sekolah saat ujian dilaksanakan.
"Kami mengkhawatirkan siswa terlambat datang ke sekolah sehingga mengambil kebijakan mengkarantina mereka di sekolah, apalagi sekarang musim hujan sehingga kalau pun hujan tidak ada siswa yang terlambat," ungkapnya.
Dikatakan, selama menjalani masa karantina empat hari sejak Minggu (17/4) hingga Rabu (20/4), setiap siswa dikenakan biaya sebesar Rp15 ribu untuk sekali makan ditambah snack.
Seluruh siswa menempati ruangan yang disediakan terpisah antara laki-laki sebanyak 23 orang yang menempati dua ruangan dan 56 siswi yang menempati empat ruangan
Di setiap ruangan kelas yang disulap menjadi ruang tidur siswa dan siswi itu, dipenuhi alas tidur berupa kasur lengkap dengan bantal dan guling yang dibawa masing-masing siswa.
Selama menjalani karantina, aktivitas siswa dan siswi diawasi para guru yang ikut menginap disamping memberikan tambahan pelajaran agar para siswa bisa menghadapi ujian keesokan harinya.
"Kebijakan ini baru diterapkan tahun ajaran sekarang dan apabila hasilnya baik hingga mampu mendongkrak tingkat kelulusan siswa maka bisa dilanjutkan tahun depan," ujar kepsek.
Salah seorang siswa mengaku senang menjalani masa karantina dengan menginap dilingkungan sekolah sehingga mereka tidak khawatir datang terlambat ke sekolah untuk mengikuti ujian pada pagi hari.
"Saya senang meski di karantina karena bisa berkumpul dengan teman-teman dan bisa belajar bersama sehingga bisa lebih santai menghadapi ujian disamping tidak takut terlambat datang," ujar siswa bernama Joko.
Kebijakan sekolah itu juga mendapat sambutan positif orangtua siswa karena memudahkan anak-anak mereka mengikuti ujian tanpa takut terlambat datang ke sekolah.
"Kami menyambut positif kebijakan sekolah karena anak-anak bisa konsentrasi belajar berkat berkumpul dengan teman-temannya sehingga diharapkan bisa lulus ujian," ucap salah seorang orangtua siswa.
Sementara itu, saat menjalani ujian hari pertama dengan program studi Bahasa Indonesia, para siswa/siswi tampak santai menjawab soal-soal yang diujikan dan semuanya tepat waktu mengikuti ujian sesuai jadwal.
"Anak-anak tampak santai mengikuti ujian dan menjawab soal-soal yang diujikan sehingga kami berharap kebijakan ini mampu mendorong kelulusan siswa hingga 100 persen," kata Rosehan.(yos/B)
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.