Puluhan bagan milik nelayan Kotabaru, Kalimantan Selatan, beberapa hari ini roboh dan hancur akibat gelombang besar.

"Sebanyak 14 buah bagan milik orangtua kami roboh," kata Nuraqsin, Selasa.

Bagan-bagan tersebut sebagian besar tiangnya tidak dapat menahan ombak besar dalam beberapa hari lal, sehingga jika tiangnya roboh 'rumah manyoet' dan bagian yang lainnya juga ambruk tenggelam.

Begitu juga dengan jaring dan peralatan tangkap yang lainnya juga robek dan rusak.

"Jika sudah rusak, tidak cukup uang enam juta rupiah untuk merehabnya, bahkan mencapai puluhan juta rupiah untuk memperbaiki satu buah bagan," terangya.

Dia mengatakan, kerusakan bagan bukan hanya terjadi di Sarang Tiung, Gedambaan, dan Sigam, Pulau Laut Utara.

Akan tetapi juga bagan milik nelayan di Pulau Laut Barat, Pulau Laut Kepulauan, Pulau Laut Selatan serta Pulau Sembilan, yang totalnya diperkirakan mencapai ratusan buah.

Akibat banyaknya bagan yang rusak tersebut, nelayan yang modalnya pas-pasan tidak dapat memperbaiki kembali baganya, mereka hanya bisa pasrah.

Namun bagi nelayan yang memiliki 'punggawa' (bos) mereka bisa mendapatkan pinjaman dari punggawa yang akan diansur setelah nelayan itu memperoleh hasil tangkapan yang memadai.

Bila hasil tangkapannya pas-pasan hanya cukup untuk menutupi biaya operasional dan untuk makan, nelayan tersebut tidak harus mengangsur hutangnya, hanya saja ia harus menjual hasil tangkapannya itu kepada juragannya yang telah memberikan pinjaman.

"Nelayan yang seperti itu banyak di Kotabaru," ujarnya.

Menurut dia, bulan-bulan ini penghasilan nelayan Kotabaru tergolong lumayan.

Karena pada bulan ini mulai musim bili/teri, cumi-cumi sserta ikan bece-bece.

Nuraqsin berharap, pemerintah daerah dapat memberikan pelatihan-pelatihan ketrampilan para nelayan tradisional di Kotabaru, agar tidak selalu tergantung pada musim.

"Saat ini mendingan penghasilan mereka cukup untuk biaya operasional, namun pada musim paceklik untuk makan sendiri saja tidak dapat, apalagi untuk biaya operasional," tandasnya.

Agar para nelayan tetap dapat penghasilan diwaktu paceklik, hendaknya perlu dibekali ketrampilan khusus.


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026