Banjarmasin, (Antaranews.Kalsel) - Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Bulan Bintang (PBB) Kalimantan Selatah H Pangeran Ibrahim menyatakan, partai politiknya optimistis akan tetap eksis dari hasil Pemilihan Umum tahun 2014.
"Sebab keberadaan Partai Bulan Bintang (PBB) yang berasaskan Islam, dengan nomor 14 sebagai peserta Pemilu 2014, tetap berkenan di hati masyarakat, terutama kaum Muslim," tandasnya menjawab Antara Kalsel, di Banjarmasin, Senin.
"Apalagi PBB satu-satunya parpol yang saat ini berani menolak `money politics` (politik uang), demi terciptanya perubahaan Indonesia yang bersih," lanjut politisi yang menyandang gelar sarjana hukum Islam itu.
Bahkan, ungkap Ibrahim yang belum "setahun jagung" memimpin PBB Kalsel itu, belakangan terbentuk forum komunikasi masyarakat yang tidak mau monye politics.
"Sikap anti money politics yang bertentangan dengan syariat Islam itu, juga salah satu strategi untuk meraih dukungan dan simpati masyarakat dalam Pemilu 2014, yang pada gilirannya menjatuhkan pilihan pada PBB," katanya.
Menurut dia, seorang Muslim sejati tentu menginginkan Indonesia yang bersih, termasuk bebas money politics pada Pemilu 2014 yang pencoblosannya tinggal sekitar tiga bulan lagi.
Karenanya, lanjut mantan anggota DPRD Kalsel periode 2004 - 2009 itu, bukan suatu hal yang aneh, kalau masyarakat, terutama dari kalangan Muslim masih menginginkan keberadaan PBB di tengah-tengah mereka.
"Sebab mereka menginginkan perubahan sebagaimana gagasan PBB, yaitu Indonesia bersih, serta berkeadilan dan berkemakmuran atas rida ilahi," demikian Ibrahim.
Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) perolehan suara secara nasional pada Pemilu 2009, untuk PBB berada pada urutan 10, dengan mendapatkan 1.864.752 suara pemilihan atau 1,79 persen.
Sementara untuk Prov Kalsel, PBB hanya bisa menempatkan seorang kader di DPRD tingkat provinsi tersebut atau mengalami penurunan satu orang dibandingkan dengan dua periode sebelumnya.
: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.