Oleh Ulul Maskuriah

Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Sebanyak 88 ribu warga Kalimantan Selatan yang berusia 15 tahun ke atas masih menderita buta aksara terutama warga yang berada di daerah tertinggal, terluar dan terpencil.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan Ngadimun, Minggu, mengungkapkan meski sudah mengalami banyak kemajuan dalam bidang pendidikan, Kalsel masih punya pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan.

Menurut dia, berdasarkan Data Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel, masih ada 88 ribu warga usia 15 tahun ke atas yang buta aksara.

Pernyataan Ngadimun tersebut juga disampaikan pada Peringatan Hari Aksara Internasional Tingkat Provinsi Kalsel yang dipusatkan di Rantau, Kabupaten Tapin, Sabtu (30/11) yang dirangkai dengan HUT Kabupaten Tapin ke-48.

Menurut dia, upaya pemberantasan buta aksara fokus dilaksanakan mulai awal 2013, dengan target pertahuh 30 ribu orang bebas buta aksara.

"Jadi 2015 sisa 28 ribu saja yang perlu kita bebaskan dari buta aksara," tuturnya.

Menjalankan program ini, Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel bekerja sama dengan Korem 101. Mereka dinilai punya jaringan kuat hingga ke tingkat desa untuk menyisir masyarakat buta aksara.

Terkait angka buta aksara tertinggi, menurut Ngadimun, angkanya hampir merata, namun paling tinggi ada di kabupaten yang memiliki daerah terpencil dan terisolir seperti Barito Kuala, Balangan, dan Tanah Bumbu.

Gubernur Kalsel Rudy Ariffin mengatakan, keaksaraan adalah prasyarat penting bagi warga negara untuk menjadi individu yang bermanfaat karena dengan bisa membaca, maka individu punya kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan dan memperkuat identitas budaya.

"Saat ini 88 ribu orang masyarakat Kalsel yang berusia 15 tahun keatas belum bebas buta aksara, ini perlu menjadi perhatian kita," katany saat ditemui wartawan.

Meski angka buta aksara masih tinggi, namun dibandingkan 2010, angka buta aksara berkurang signifikan. Pada 2010, angka buta aksara mencapai 144 ribu orang.

"Dalam tiga tahun terakhir dari 2010 sampai sekarang sudah menurun tajam. Harapan saya ada dukungan dari kabupaten dan kota makin meningkat," ucap Rudy.

Menurut Rudy, sebelumnya target pemberantasan buta aksara adalah usia 15-45 tahun, namun kini target tersebut berubah menjadi usia 15 tahun sampai tak terbatas.

Karena alasan tersebut, masih ada puluhan ribu masyarakat khususnya usia 45 ke atas yang perlu pengentasan buta aksara.

"Harapannya dalam 2-3 tahun ke depan bisa tuntas, karena ada kelompok belajar dan digandeng dengan kegiatan kesejahteraan. Ini yang kita harapkan bisa membuat masyarakat mau belajar," ujarnya.


Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026