Menurut Hananiah, di Amuntai, Kamis, saat ini kecenderungan masyarakat masih menganggap caleg laki-laki lebih memiliki kemampuan untuk memperjuangkan aspirasi mereka.
Padahal, kata Hananiah yang kini menjadi caleg Golkar di Kabupaten HUlu Sungai Utara, justru caleg perempuan yang lebih mengerti aspirasi kaumnya, dan memiliki kepedulian yang lebih besar untuk memperjuangkannya.
"Yang mengerti masalah perempuan tentu dari pihak perempuan juga, dan saat ini sudah banyak perempuan yang memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin," katanya.
Namun demikian, ia mengakui bahwa menjadi posisi caleg perempuan memang cukup sulit karena harus bersaing dengan caleg laki-laki, yang biasanya lebih mampu secara finansial, populer dan memiliki kharisma.
Ia mencontohkan dari sembilan caleg Partai Golkar saja, ia harus bersaing dengan caleg pria dengan latar belakang pengusaha, politisi dan tokoh masyarakat, bahkan mantan pejabat.
Sedangkan dia mengaku hanya bermodal `tebar pesona` dan pengalaman berorganisasi selama puluhan tahun di PKK.
Hananiah menyatakan, tidak bisa mengesampingan latar belakang masyarakat yang agamis, seperti tokoh agama, para santri dan masyarakat yang memilikiakar budaya dan penganut ajaran agama.
Banyak masyarakat di daerah yang agamis yang kuat, sedikit banyak akan mempertimbangkan untuk memilih caleg perempuan.
Apalagi, kata dia, tidak menutup kemungkinan keberadaan caleg perempuan dianggap hanya untuk memenuhi kouta 30 persen sehingga kualitasnya diragukan masyarakat.
"Sebagai caleg perempuan saya berharap masyarakat bisa menilai secara objektif dan menentukan pilihan sendiri sesuai hati nurani," katanya.
Namun dari pengalaman selama puluhan tahun dalam gerakan pemberdayaan perempuan, tambah dia, berjanji akan memperjuangkan aspirasi kaum perempaun jika nanti terpilih.
Pewarta: Eddy AbdillahEditor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.