Oleh Ulul Maskuriah
Banjarmasin, (Antara) - Dinas Pertanian Kalimantan Selatan segera menanam bawang merah pada lahan seluas 54 hektare pada lahan pertanian di enam kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan yang memiliki dataran tinggi.


Kepala Dinas Pertanian Pemprov Kalsel, Aus Alkautsar di Banjarmasin, Rabu mengatakan, progam penanaman bawang merah tersebut sebenarnya telah direncanakan pada 2012, sebagai upaya menurunkan ketergantungan warga Kalsel terhadap produk luar daerah.

"Penanaman ini sebenarnya tidak ada hubungan dengan mahalnya harga bawang saat ini, tetapi merupakan program pemerintah untuk menurunkan inflasi yang sering dipicu karena mahalanya harga barang dari luar daerah," katanya.

Sayangnya, kata Aus, rencana tersebut belum bisa dilaksanakan karena terkendala mahalnya bibit bawang merah saat ini.

Pada saat program tersebut dianggarkan, harga bibit bawang merah masih berkisar Rp15 ribu per kilogram namun kini telah mencapai Rp30 ribu per kilogram, sehingga ada kenaikan anggaran hingga dua kalilipat.

Menurut Aus, diperlukan untuk penanaman tersebut diperlukan benih bawang merah hingga 800 - 1100 kilogram, dengan hasil produksi delapan kalilipat dari jumlah benih yang ditabur.

Beberapa kabupaten yang cocok untuk ditanam bawang merah antara lain adalah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Tapin, Tanah Laut, dan Tabalong yang merupakan daerah dengan kondisi cuaca yang sangat mendukung untuk tanaman ini.

Sedangkan untuk bawang putih, kata dia, diperlukan perlakuan khusus yang lebih sulit dibandingkan dengan bawang merah, selain itu juga diperlukan kecocokan suhu, sehingga hingga kini Kalsel belum pernah melakukan uji coba penanaman bawang putih.

Selain bawang merah, Kalsel juga sedang mengembangkan berbagai tanaman yang selama ini sebagai komoditas penyumbang inflasi terbesar di Kalsel, seperti cabe rawit, cabe merah besar dan lainnya.

Khusus cabe merah, pengembangannya telah berhasi dilakukan di Kabupaten HSS yang merupakan binaan dari Bank Indonesia.

Selama ini kebutuhan pokok Kalsel, terutama sayur mayur hampir 70 persen dipasok dari Pulau Jawa dan beberapa provinsi lainnya.

Kondisi tersebut, membuat ekonomi Kalsel sangat rentan dengan gejolak kenaikan harga, baik itu karena cuaca buruk maupun kelangkaan barang akibat stok yang menipis.

Ketergantungan terhadap daerah lain, juga membut ekonomi Kalsel rentan untuk menjadi bahan "permainan" spekulan dari daerah lain.

Mengantisipasi hal tersbeut, kini pemerintah serta pihak terkait lainnya, termasuk perbankkan terus mendorong sektor pertanian untuk mampu menghasilkan dan memenuhi kebutuhan sendiri dengan mengembangankan berbagai komoditas yang diperlukan, sesuai dengan karakter lahan masing-masing daerah.   




: Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026