Oleh Imam Hanafi

Amuntai, (Antaranews Kalsel) - Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, mulai 2013 berupaya menekan jumlah siswa yang putus sekolah, melalui beberapa langkah strategis.


"Diantaranya, penambahan lima buah sekolah lanjutan tingkat atas," kata Kabid pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Hulu Sungai Utara (HSU) HM Yunus, Selasa.

Pemberian beasiswa dan bantuan operasional sekolah rintisan, serta upaya penuntasan wajib belajar 12 tahun hingga perbaikan infrastruktur yang menunjang pendidikan.

Dia menjelaskan, data 2011 Angka Putus Sekolah (APS) Sekolah Dasar/Madrsyah Ibtidaiyah (SD/MI) sebesar 0,42 persen, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sebesar 10,73 persen, dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sebesar 35,80 persen,.

Dinas Pendidikan mengakui, masih rendahnya rata-rata sekolah penduduk HSU yakni, hanya 7,48 tahun.

Artinya, rata-rata penduduk HSU hanya bersekolah sampai dengan kelas 2 SLTP semester 1.

Sejak awal ajaran atau Juli 2012, Dinas Pendidikan telah menyalurkan dana bantuan operasional sekolah (BOS), rintisan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), kepada seluruh siswa masing-masing sekolah sebesar Rp100 ribu/orang per bulannya atau Rp1,2 juta per orang per tahun.

"Memasuki 2013 belum ada perubahan terkait kebijakan pemberian dana BOS rintisan SMA/SMK ini hingga akhir tahun ajaran Juli mendatang," katanya.

Yunus menegaskan, karena masih berstatus sebagai rintisan, katanya maka belum ada konsekuensi, atau ketentuan yang harus dipenuhi sekolah yang menerima dana BOS rintisan.

Selain itu, mulai 2013 Disdik HSU juga berencana membangun lima buah SMA di lima kecamatan yang belum memiliki SMA.

"Saat ini prosesnya sudah pada tahap upaya pembebasan lahan untuk sekolah," ujanya.

Kecamatan yang akan dibangun SMA yakni Kecamatan Haur Gading, Banjang, Amuntai Selatan, Babirik dan Sungai Tabukan.

"Dengan Penambahan SMA ini diharapkan akan menarik minat siswa di wilayah kecamatan untuk melanjutkan sekolah" katanya.

Sekretaris Disdik HSU Amberani SH MH pada jumpa pers itu juga menambahkan, Disdik telah mengusulkan anggaran sebesar Rp2 miliar untuk pemberian beasiswa bagi siswa sekolah dasar (SD) untuk meneruskan pendidikan ke jenjang SLTP dan SLTA.

Melalui upaya pemberian beasiswa ini, sambung Amberani, Disdik juga akan mensosialisasikan keberlanjutan pemberian beasiswa ini kepada siswa SD agar tidak takut meneruskan pendidikan ke jenjang SLTP.

"Ada kemungkinan siswa takut melanjutkan sekolah karena khawatir tidak lagi mendapatkan beasiswa yang telah mereka terima saat di bangku SD," cetusnya.

Pihaknya juga telah mengusulkan perbaikan sejumlah sarana jalan untuk memudahkan aktivitas belajar mengajar.

Sulitnya medan yang ditempuh untuk menuju lokasi sekolah, katanya sering pula berdampak menurunkan minat belajar dan mengajar terutama kaum perempuan.

"Meski bukan faktor yang menentukan keberhasilan upaya pengurangan siswa putus sekolah, namun perbaikan infrastruktur untuk menunjang pendidikan ini juga perlu dilakukan sebagai bentuk keseriusan Pemda dalam membangun dunia pendidikan," jelas Amberani

Karena anggaran daerah yang terbatas maka perbaikan jalan yang dimaksud bukanlah jalan-jalan utama melainkan jalan tersier seperti gang, titian, dan urukan untuk memudahkan aktivitas menuju sekolah.

Terkait masih tingginya angka putus sekolah dikalangan siswa ini memunculkan wacana tersendiri di jajaran Disdik untuk melibatkan peran serta para alim ulama, dan guru agama agar bisa memberikan pemahaman kepada warga arti penting pendidikan anak ditinjau dari Hukum Agama Islam

Wacana ini muncul, Kata Amberani karena pertimbangan masyarakat HSU yang agamis kemungkinan lebih mau menerima petuah dari para alim ulama dan guru agama.

  "Selain itu secara hukum formal dalam Undang-undang pendidikan dan perlindungan anak juga ditekankan kewajiban orang tua terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak," tandasnya.   


Editor :

COPYRIGHT © ANTARA 2026