Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3), pada Rabu (12/12), meresmikan reaktor biomasa di Desa Sungai Kupang, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Daerah tersebut, ditunjuk sebagai lokasi pilot project bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat (LPPM ULM).

"Reaktor biomasa ini merupakan salah satu dari 6 pilot project seluruh Indonesia yang diprogramkan pada tahun anggaran 2018 mencakup wilayah Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Barat," kata 
Alan Dwi Wibowo dari LPPM ULM.

Tujuan pilot project ini adalah untuk menunjang program ketahanan energi nasional melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). 

KLHK membangun Proyek percontohan Fasilitas Penyediaan Energi Biomassa untuk masyarakat dalam bentuk Reaktor Biomassa.


Manfaat sampingan dari pembangunan reaktor biomaasa ini selain energi biogas, juga memproduksi jamur untuk dikonsumsi dari limbah tandan kosong kelapa sawit dan sludge sebagai pupuk padat organik serta mengurangi limbah pabrik kelapa sawit. 

Selain itu reaktor biomassa ini ke depan dapat dijadikan wahana riset mahasiswa ULM dan pengabdian masyarakat bagi dosen ULM.

Reaktor biomassa yang diresmikan tersebut dengan kapasitas 10 ton/batch. Energi yang dihasilkan dari reaktor tersebut sekitar 154 m3/hari, atau setara dengan 61,6 kg gas elpiji, dan dapat digunakan oleh 20 kepala keluarga.

Biomassa adalah jenis energi terbarukan yang mengacu pada bahan biologis, yang berasal dari organisme yang hidup atau belum lama mati.

Potensi biomassa sangat besar di Indonesia, diperkirakan sebanyak 49.810 MW, yang berasal dari tanaman dan limbah. 

Salah satunya adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS/Tankos) yang merupakan limbah padat terbesar industri kelapa sawit yaitu sekitar 27,6% – 32,5% selama proses.
Salah satu pemanfaatan TKKS adalah dengan menjadikannya sebagai media jamur konsumsi. Teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi limbah tersebut adalah dengan proses pengomposan anaerobik.

Pengomposan anaerobik akan menghasilkan gas metan (CH4), karbon dioksida (CO2) dan asam organik. Gas metan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif (biogas).

Dengan hadirnya Reaktor Biomasa diharapkan dapat memberikan manfaat yang optimal, baik bagi lingkungan, produksi pangan dan energi, serta segi finansial. 

Dari sisi lingkungan, teknologi ini dapat mengurangi limbah padat yang membentuk methane capture, sehingga gas yang terbentuk saat proses tidak terdispersi langsung ke udara dan tidak menyebabkan pemanasan global.

Dari aspek produksi, teknologi ini menghasilkan media tumbuh jamur untuk Ketahanan Pangan serta menghasilkan energi bersih bersih berupa gas untuk Ketahanan Energi. Sedangkan secara finansial, dapat menambah penghasilan masyarakat dari hasil panen jamur dan penghematan bahan bakar.
Dalam kegiatan ini, turut hadir Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kotabaru, LPPM ULM diwakili oleh Alan Dwi Wibowo, MT dan Dr Suyanto, MP, Camat Kelumpang Hulu, Kepolisian, Babinsa, Ketua adat Dayak Desa sungai Kupang, Ketua Adat Dayak kabupaten kotabaru, serta Manager PT Fajar Agro Sejahtera (PT. FAS) sebagai pemasok bahan baku biomassa, Manager PT Sinar Mas (PT. Smart) dan perwakilan PT. Benua Lawas Lestari (PT. BLL) dan masyarakat.

Pewarta: Firman

Editor : Ulul Maskuriah


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2018