Ustadz Haji Muhammad Luthfi Syarkawi Thayib mengingatkan kaum muslim agar jangan buruk sangka, dalam tausyiahnya di Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin, sesudah shalat Subuh Ahad. 

"Buruk sangka tersebut terhadap sesama manusia ataupun sesama Muslim, terlebih buruk sangka dengn Allah jangan ada samasekali," ujar ustadz muda itu di hadapan jamaah Masjid Assa'adah itu.

Menurut Ustadz Luthfii, dengan tanpa sangka buruh bisa mengantarkan seorang Muslim saat kematiannya insya Allah saat kematian dalam keadaan husnul-khatimah. 

Ustadz muda itu juga mengajak kaum Muslim untuk selalu ikhlas menerima pembarian atau qadha dan qadhar Allah SWT. 

Ustadz Luthfi mengajak atau mengingatkan itu dalam pengajian kalam hukmah Ibnu Athaillah Al Iskandari berkaitan dengan "maqam tajrid" (tentang ibadah keagamaan  atau ukhrawai). 

Dengan mengutip pendapat Imam Ibu Athaillah Al Iskanari tersebut, Ustadz Luthfi mengatakan, kehidupan orang ada dua maqam (tingkatan spiritual seorang hamba) yaitu "Tajrid" dan Asbab (usaha duniawi). 

"Kedua maqam tersebut mempunyai kebenaran dan masing-masing punya pegangan, serta bisa diterima akal seperti halnya/contoh Imam Syafi'i yang berada di maqam asbab dan gurunya Imam Malik (maqam tajrid). 

Diceritakan, Imam Syafi'i dengan cara berusaha mendapatkan duit dan buah anggur, serta datang Imam Maliki untuk membuktikan maqam asbab. Di hadap Imam Malik tersebut, Imam Syafi'i memberikan duit dan anggur sebagai bukti hasil usaha. Imam Malik pun berterima kasih dan juga membuktikan maqam tajrid/tanpa usaha juga dapatkan duit dan buah anggur yaitu pemberian Imam Syafi'i tersebut. 

Masih mengutip pendapat Ibnu Athaillah, seorang sufi dari Mesir tersebut, Ustadz Luthfi mengatakan, bahwa keinginan seseorang yang berada di maqam asbab ingin ke maqam tajrid mengandung syahwat atau nafsu tersembunyi. 

Sementara maqam tajrid kedudukannya lebih tinggi daripada maqam asbab. "Karenanya kalau sudah berada di maqam tajrid jangan ingin ke maqam asbab," demikian Ustadz Luthfi Syarkawai Thayib. 

Ustadz HM Luthfi Syarkawi Thayib saat tausyiah di Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin, sesudah shalat Subuh Ahad (1/2/2026). (ANTARA/Syamsuddin Hasan)

Ibnu Athaillah al-Iskandari, lahir di Iskandariyah (Alexandria), Mesir, sekitar tahun 658 H/1250 M, wafat 1309 M, seorang ulama besar sufi dari Mesir pada abad ke-13, terkenal sebagai penulis kitab monumental Al-Hikam.

Tokoh utama dalam Tarekat Syadziliyah yang menjembatani syariat dan tasawuf dengan nama aslinya Tajuddin Abu al-Fadhl Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Atha'illah al-Iskandari.Tumbuh di keluarga terdidik, awalnya seorang pakar fikih Mazhab Maliki yang sempat anti-tasawuf.

 

Pewarta: Syamsuddin Hasan

Editor : Firman


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2026