Seorang petani kelapa sawit di Kelumpang Selatan, Kotabaru, Sholikhah, Minggu mengatakan, pekan tadi harga kelapa sawit naik kisaran Rp100-Rp200 per kilogram dari Rp500-Rp650 per kilogram menjadi Rp600-Rp850 per kilogram.
"Meski kenaikannya kecil tetapi lumayan bila dikalikan dengan hasil panen besar jumlahnya juga besar," tutur Sholikah.
Sebelum terjadi kenaikan, harga TBS hasil tanam kurang dari tiga tahun kisaran Rp500 per kilogram.
Padahal, sebelumnya harga TBS dari pohon yang sama bisa mencapai Rp1.200 per kilogram.
Salah satu faktor anjloknya harga TBS, menurut seorang pedagang pengumpul Sunarso, mengatakan, akibat masuknya TBS dari Kaltim ke Kotabaru.
"TBS dari hasil tanaman kurang daroi 10 tahun dari wilayah Kaltim cukup besar, sehingga TBS dari Kotabaru juga cukup besar," katanya.
Sementara pabrik kelapa sawit (PKS) yang menerima TBS hasil perkebunan swadaya masyarakat hanya dua atau tiga PKS.
"Sehingga di PKS tersebut terjadi antrean cukup panjang," ujar pedagang TBS.
Bahkan ujar dia, antrean bisa hingga tiga hari baru bisa menjual TBS.
Kondisi tersebut menyebabkan membanjirnya TBS di masyarakat, sehingga mengakibatkan harganya juga turun.
Pedagang dan petani kelapa sawit mengharpkan adanya regulasi, atau pengaturan penjualan TBS kepada PKS.
Pertama, bila memungkinkan, TBS dari Kaltim dibatasi, dan harusnya PKS yang ada di Kotabaru atau Tanah Bumbu lebih mengutamakan TBS hasil petani lokal.
Kedua, pemerintah membangun PKS bartu atau memperbanyak PKS baik oleh swasta murni atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Dengan cara tersebut, harga TBS akan terjaga dan petani tidak dirugikan.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Usaha Kecil dan Menengah H Mahyudiansyah, MAP, hingga saat ini belum berhasil dikonfirmasi terkait kondisi anjloknya harga TBS dan keinginan petani dan pedagang lokal.C
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.