Anggota Komisi IV DPR-RI Habib Nabiel Fuad Al Musawa mengharapkan, pemerintah daerah dan warga masyarakat Kalimantan Selatan jangan puas dengan berdirinya pabrik minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).


"Tapi bagaimana cara menarik swasta atau investor agar membangun pabrik yang menghasilkan produk turunan CPO," katanya dalam keterangan pers kepada wartawan yang tergabung dalam "Journalist Parliament Community (JPC)" Kalsel di Banjarmasin, Rabu.

"Untuk itu pula, bagaimana menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi perkembangan industri kelapa sawit sehingga pihak swasta/investor tidak cuma tertarik membangun pabrik CPO, tapi juga bersemangat membangun pabrik yang menghasilkan produk turunan CPO," lanjutnya.

Menurut legislator asal daerah pemilihan (dapil) Kalsel itu, keberadaan pabrik CPO di lokasi perkebunan sawit memang sangat penting, namun Pemerintah Daerah jangan hanya puas dengan berdirinya pabrik CPO baru.

Pendapat dan saran politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, menganggapi peresmian pabri CPO baru di Kabupaten Tapin, Kalsel milik perusahaan PT Hasnur Group, yang memiliki multi usaha itu.

Pabrik CPO baru di "Bumi Ruhui Rahayu" Tapin tersebut memiliki kapasitas produksi 45 ton tandan buah segar (TBS) per jam dan bisa ditingkatkan menjadi 90 ton TBS per jam.

Anggota Komisi IV DPR yang juga membidangi pertanian itu menambahkan, produk turunan CPO memiliki nilai tambah yang lebih besar. Keberadaan pabrik-pabriknya bisa menyerap tenaga kerja yang lebih besar.

"Hal tersebut berarti pula mengurangi pengangguran dan menurunkan angka kemiskinan�, papar wakil rakyat dari PKS yang menyandang gelar insinyur dan magister bidang pertanian itu.

Ia mengungkapkan, dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRWP) Kalsel, dicadangkan lebih dari satu juta hektar lahan untuk sawit. Rinciannya 585.088 ha di tanah padat dan 473.000 ha di lahan rawa.

Di areal tanah padat, yang sudah ditanami seluas 300 ribu ha. "Potensi sawit Kalsel demikian besar. Alangkah baiknya bila perencanaan itu disertai dengan jumlah dan lokasi pabrik CPO dan pabrik turunan CPO.

"Dengan demikian, kelak yang keluar dari `Bumi Perjuangan Pangeran Antasari` Kalsel yang terdiri 13 kaabupaten/kota ini didominasi oleh produk olahan," tuturnya.

Ia memperkirakan, produk derivatif CPO ada sekitar 150 jenis, baik pangan maupun nonpangan. Tapi industri ini di Indonesia relatif masih berjalan lambat sehingga ekspor produk hasil kelapa sawit Indonesia masih didominasi bentuk CPO.

Perbandingan ekspor CPO Indonesia dengan produk turunannya masih sekitar 60 persen berbanding 40 persen (60 : 40), jauh ketinggalan dibandingkan Malaysia, 20 persen berbanding 80 persen, ungkapnya.

Oleh sebab itu, menurut dia, sudah waktunya Indonesia berkonsentrasi penuh untuk meningkatkan ekspor produk hasil kelapa sawit dalam bentuk produk derivatif CPO.

  "Dengan demikian, jenis produk ekspor Indonesia lebih beragam dan penerimaan devisa menjadi lebih besar. Dalam hal ini diharapkan Kalsel lebih bersemangat dibandingkan provinsi-provinsi lain," demikian Habib Nabiel./D.
(T.KR-SHN/B/M019/M019) 06-02-2013 21:09:16


: Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026