Menurut penduduk setempat, Ohan saat ditemui di Desa Alat, sekitar 20 kilometer dari Barabai, ibu kota Hulu Sungai Tengah (HST), Kamis, kekeringan lahan terjadi karena bendungan yang ada di desa itu tidak berfungsi.
"Sudah empat tahun ini kami tidak bisa menanam padi karena "tabat" (bendungan) rusak parah sehingga tidak bisa mengalirkan air ke sawah," ujarnya.
Sejak empat tahun yang lalu, bendungan Talaring yang ada di desa tersebut jebol dan hancur sehingga menyebabkan puluhan hektar lahan sawah tidak lagi mendapatkan pasokan air untuk pertanian.
Ia mengatakan, pemerintah daerah setempat, dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum (PU), pernah melakukan survey ke lokasi bendungan yang rusak.
"2010 lalu pernah ada survey dari petugas Dinas PU dan katanya "tabat" yang rusak tersebut akan diperbaiki. Tetapi hingga saat ini tidak ada realisasinya," katanya.
Wilayah Desa Alat berada di dataran tinggi sehingga aktivitas pertanian sangat tergantung pada suplay dan ketersediaan air melalui sistem irigasi.
Ia menambahkan, kekeringan yang telah terjadi sudah empat tahun lamanya itu membuat terjadinya alih fungsi lahan dari sawah menjadi kebun.
"Beberapa petani sekarang menanami sawah mereka yang kering itu dengan tanaman karet, jagung dan rumbia atau enau," tambahnya.
Namun bagi petani yang tidak memiliki modal untuk berkebun terpaksa membiarkan lahan sawah mereka hingga ditumbuhi semak.
Meskipun puluhan hektar lahan sawah yang kering tersebut bisa saja dialih fungsikan menjadi kebun, tetapi akibatnya warga setempat kekurangan stok pangan.
Diharapkan pemerintah daerah setempat dapat segera melakukan perbaikan terhadap bendungan yang rusak tersebut agar warga bisa kembali beraktivitas menanam padi.
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.