"Selama ini begitu ada keluhan banyak ikan mati, seluruh pihak terkait langsung melakukan tindakan penanganan, kondisi tersebut berbeda saat ada informasi tentang adanya sawah yang kekeringan hanya dinas pertanian yang turun tangan," kata Aus di Banjarmasin, Senin.
Padahal, tambah dia, sektor pengairan sangat erat hubungannya dengan dinas dan instansi terkait lainnya, yang tidak mungkin dipisahkan dan ditangani oleh dinas pertanian saja.
Sebagai contoh, kata dia, pada musim kemarau lalu banyak ikan di Martapura yang mati karena kondisi keramba yang kekeringan, sehingga cepat-cepat diantisipasi dengan membuka pintu waduk lebih besar, sehingga air lebih cepat dan banyak menggelontor.
Kondisi tersebut tambah dia, berbeda pada saat sawah petani kekeringan, yang banyak menimbulkan kerugian cukup besar bagi petani, antara lain gagal tanam maupun gagal panen, tidak ada instansi lain yang membantu antara lain dengan membuka waduk lebih besar untuk menggelontorkan air ke sawah.
"Padahal kita tahu masalah pangan tidak kalah pentingnya dibanding dengan masalah perikanan dan lainnya, untuk itu kita berharap kedepan ada koordinasi yang lebih baik," katanya.
Apalagi tambah dia, pada 2013 target produksi padi Kalsel secara nasional mengalami kenaikan dari sebelumnya 2,56 juta ton menjadi 2,127 juta ton sehingga harus ada peningkatan sekitar 80 ribu ton gabah kering giling.
Gubernur Kalsel Rudy Ariffin meminta, masalah pengairan menjadi perhatian bersama-sama, dan harus benar-benar dikoordinasikan terutama pada saat musim kemarau.
Koordinasi tersebut, tambah dia, bukan hanya dengan perikanan dan pertanian, tetapi juga dengan PLN, mengingat banyak sektor yang bergantung pada waduk Riam Kanan yang merupakan sumber pengairan terbesar di Kalsel.
"Waduk Riam Kanan juga menjadi salah satu sistem pembangkit PLN yaitu PLTA yang cukup besar mencapai 30 megawatt," katanya.
Selain itu, air waduk juga menjadi salah satu sumber utama PDAM dan air bersih bagi warga Kalsel terutama warga Banjarmasin, Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.
"Jangan sampai banyaknya kepentingan terhadap waduk Riam Kanan tersebut justru membuat sektor satu dan lainnya saling dirugikan, sehingga perlu koordinasi intensif antara pertanian, perikana, PLN dan PU, untuk menyelesaikan persoalan tersebut," katanya.
Walaupun awalnya, tambah Gubernur, waduk tersebut didesain untuk dimanfaatkan sebagai pengairan pertanian antara lain untuk mencetak sawah, namun dalam perkembangannya, sektor perikanan juga cukup pesat berkembang di sekitar wilayah tersebut.
Sehingga seluruh yang berkepentingan harus mendapatkan porsi sesuai dengan kondisi di lapangan pada saat kejadian. C
: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.