Kendati pertumbuhan ekonomi nasional sedang mengalami perlambatan namun tidak terlalu berpengaruh terhadap perekonomian Kalimantan Selatan terbukti laju inflasi kisaran 5,74 persen lebih rendah dari perkiraan awal sebesar 6,09 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Kalimantan Khairil Anwar di Banjarmasin, Senin mengatakan, relatif terjaganya inflasi Kalsel terutama hingga Oktober 2012 tersebut, didukung oleh pasokan komoditas bahan kebutuhan pokok yang relatif terjaga.

Selain itu, juga ekspektasi pelaku usaha dan konsumen yang cukup terkendali, namun demikian, seluruh pihak terkait harus tetap berhati-hati karena isu energi yang menjadi isu utama di wilayah pusat perekonomian Kalimantan, termasuk Kalsel hingga kini belum menemukan solusi yang optimal.

Kelangkaan stok BBM, baik itu solar maupun premium, tambah Khairil masih kerap dijumpai di Banjarmasin, dan terkendala kebijakan kuota dari pemerintah pusat.

"Apalagi masih ditambah dengan pasokan listrik yang seringkali mengalami keterbatasan, hingga saat ini juga belum memiliki jalan keluar dalam jangka panjang," katanya.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi tingkat nasional, Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas, mengatakan, perlambatan ekonomi dunia mengakibatkan mitra dagang utama Indonesia mengurangi konsumsi domestiknya, sehingga menyebabkan terjadinya perlambatan ekspor.

"Saya lihat perlambatan ekspor juga terjadi di Kalsel, khususnya pada menurunnya ekspor batubara," katanya.

Perlambatan ekspor tersebut, tambah dia, tidak menutup kemungkinan membuat nilai kurs dolar juga semakin mahal terhadap rupiah.

"Kalau itu terjadi, saya harap masyarakat atau pengusaha jangan panik, karena sebenarnya itu adalah mekanisme dimana lokomotif perekonomian Indonesia sedang mencoba memperbaiki diri," katanya.

Saat ini, kata Ronald, kurs terhadap rupiah telah mencapai Rp9.643 naik dibanding sebelumnya berada pada kisaran Rp9.400 - Rp9.500.

Dengan melemahnya rupiah, maka impor menjadi mahal, dan hikmahnya akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap barang-barang impor, sehingga diharapkan kondisi ini akan membantu memotivasui bangsa Indonesia untuk meningkatkan kemandirian ekonomi.

Turunya ekspor, juga berpengaruh terhada aktivitas pembayaran non tunai yang biasanya dimanfaatkan dalam transaksi ekpsor, yang juga turun dari sebelumnya pada Januari hingga September transaksi melalu BI RTGS sebesar Rp427 triliun per hari, sejak triwulan III menjadi hanya Rp330 triliun per hari.

"Beruntung dengan kondisi tersebut, inflasi secara nasional masih cukup terjaga rendah, pada Oktober 2012 inflasi nasional pada tingkat 4,61 persen masih pada range target BI sebesar 3,5 - 5,5 persen," katanya.C


Editor : Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2026