Pertanyaan itu disampaikan dalam diskusi kelompok pada sarasehan kebangsaan bertema "Menuju Era Baru Nasionalisme Ekonomi Indonesia" di Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (24/11), demikian dilaporkan, Minggu.
Munculnya pertanyaan Direktur Eksekutif IRESS itu saat diskusi kelompok yang membahas sub tema "Skenario Membangun Kemandirian Energi Nasional", karena terkesan kekuragseriusan penggunaan BBG untuk kegiatan transportasi di Indonesia.
Padahal penggunaan BBG salah satu alternatif pendayagunaan energi alternatif pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM), yang kebutuhannya juga terus meningkat, sementara produksinya masih terbatas.
Ia mengungkapkan, pada Tahun 2006 tercatat sekitar 3.000 kendaraan di Indonesia yang menggunakan BBG, tapi empat tahun kemudian atau 2010 turun menjadi 2.000 unit saja lagi.
"Angka dari 3.000 menjadi 2.000 kendaraan saja lagi, sebagai salah satu indikator kekurangseriusan penggunaan BBG. Komitmen tersebut perlu kita pertanyakan," demikian Marawan Batubara.
Persoalan energi nasional cukup hangat dalam diskusi yang melibatkan sejumlah ahlinya dan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia yang datang ke "kota kembang" Bandung itu.
Pasalnya persoalan energi merebak hampir di seluruh pelosok nusantara, terlebih bila dikaitkan dengan kelistrikan di Indonesia yang belum maksimal atau masih selalu bermasalah, seperti "byar pet" (hidup- mati/nyala-padam).
Bahkan sebagimana diungkapkan peserta diskusi dari Kepulauan Riau (Kepri), di provinsi tersebut masih ada beberapa kecamatan yang tak menikmati penerangan listrik dari PLN, walau Indonesia merdeka sudah 67 tahun.
Sementara itu, Ketua Dewan Penasihat Ikatan Ahli Geologi Indonesia Dr Ir Adang Bachtiar MSc dalam forum diskusi tersebut juga seakan mempertanyakan sumber daya energi di negerinya.
Karena, menurut dia, ada kesan ketidaksinkronan antara perkiraan sumber daya (resources) dengan cadangan (reserves), sehingga relatif sulit memperkirakan potensi riil dari sumber daya energi tersebut.
"Untuk itu semua perlu perhatian dan keterlibatan semua pihak, antara lain dengan melibatkan para peneliti," demikian Adang Bachtiar.
Potensi energi tersebut, menurut Iskandar, seorang praktisi Mikrohidro, bukan cuma pada minyak dan gas, serta hasil tambang, tapi juga berupa air (hidromikro).
"Kita harus dapat memaksimalkan pemanfaatan potensi hidromikro, guna mengatasi masalah energi, terutama untuk kebutuhan pedesaan dalam upaya menunjang pertumbuhan ekonomi kerakyatan," ujar Iskandar. C
: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.