Progres pertumbuhan indeks pembangunan manusia Kalimantan Selatan dalam beberapa tahun terakhir dinilai cukup bagus, kendati rankingnya masih tetap berada pada urutan ke-26 dari 33 provinsi di Indonesia.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik Kecuk Suharyanto di Banjarmasin, Selasa mengatakan, progres upaya perbaikan IPM Kalsel cukup bagus, baik itu di sektor pendidikan, kesehatan maupun harapan hidup masyarakatnya.
Hal tersebut terbukti dari data tentang sudah tingginya warga melek huruf, berkurangnya angka kemiskinan di mana Kalsel berada diurutan ke tiga terendah penduduk miskinnya.
"Kalau dibandingkan dengan DKI, ya memang cukup jauh, tetapi DKI kan hampir begitu-begitu saja, tidak ada pencapaian yang signifikan walaupun didukung dengan berbagai fasilitas," katanya.
Menurut Kecuk, justru daerah-daerah seperti Nusa Tenggara, Kalimantan dan beberapa daerah Timur, progres perkembangan IPM-nya cukup bagus dan meningkat signifikan.
Kalsel sendiri, kata dia, kendati berada di urutan ke-26, tetapi kabupaten yang tertinggal atau terendah IPM-nya hanya empat kabupaten dari 13 kabupaten dan kota.
Hal tersebut merupakan salah satu tanda bahwa pemerataan pembangunan cukup bagus di daerah ini, karena ada beberapa provinsi yang rankingnya di atas, tetapi daerah tertinggalnya hampir 50 persen.
Dengan kondisi tersebut, berarti terjadi ketimpangan kesejahteraan yang cukup signifikan.
"Untuk progres kemajuan IPM saya rasa kita tidak lagi perlu melihat ranking, harus dilihat dari banyak faktor," katanya.
Menurut Kecuk, yang membuat IPM Kalsel masih tertinggal dari daerah lain adalah angka harapan hidup yang masih lebih rendah dibanding dengan daerah lain, sehingga hal tersebut harus mendapatkan perhatian.
"Kan sudah diketahui daerah-daerah yang memiliki nilai IPM rendah, sehingga akan lebih mudah bagi pemerintah untuk memberikan perhatian lebih," katanya.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia.
IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup/D.
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.