Warga Tabunganen Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, mendambakan penerangan listrik dari PT PLN.

"Sejak dulu hingga kini,kami belum pernah menikmati penerangan listrik dari PLN," seorang warga Tabunganan, Etin kepada ANTARA Kalsel, di Banjarmasin, Senin, seraya menuturkan sebagian besar warga setempat masih menggunakan lampu teplok.

Kalaupun ada penerangan listrik, itu hanya bagi urang-urang berduit, menggunakan generator set (genset) sendiri atau pakai sistem strum aki (accu) dengan waktu menyala terbatas, ungkapnya.

Sedangkan untuk menikmati listrik, menggunakan jasa PLN juga tergolonga mahal, karena harus membayar sekitar Rp4 juta buat memasang sambungan instalasi.

Di Tabunganen (sebuah pulau terpencil dekat muara Sungai Barito)ini memang tidak ada jaringan instalasi listrik dari PLN, kecuali di daerah seberangnya yang melewati Sungai Barito sudah terpasang sambungan listrik dari PLN, ungkapnya.

"Mungkin karena belum ada jaringan, sehingga menyambung listrik dari PLN harus bayar mahal, sebab dianggap harus investasi sendiri," tutur keluarga yang usianya hampir setengah baya dan tinggal berdua suami istri itu.

"Kalau bayar `larang` (mahal) seperti kami petani yang penghasilan juga hanya pas-pasan, maka tidak mungkin bisa menikmati penerangan listrik dari PLN," katanya.

Masyarakat Tabunganen berharap, baik pemerintah daerah setempat maupun PLN selaku penjual jasa layanan kelistrikan dapat memprogramkan penerangan listrik di pulau terpencil itu.

Mata pencaharian warga masyarakat Tabunganen sebagian besar bertani (menanam padi sawah) dan menangkap ikan, karena wilayahnya selain dekat dengan garis pantai, juga berada di perairan umum.

Selain Tabunganen, di sepanjang alur muara Sungai Barito juga terdapat sejumlah pulau-pulau kecil, menjadi tempat usaha pertanian warga dan merupakan daerah pasang surut.C


: Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026