Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus mendorong percepatan penyelenggaraan lelang terhadap berbagai proyek infrastruktur daerah ini agar pembangunan bisa segera direalisasikan.
Kepala Biro Keuangan Pemprov Kalsel Syeh Jehan di Banjarmasin, Rabu mengatakan, hingga kini realisasi penyerapan dana APBD 2012 sebesar Rp3,5 triliun kurang dari 45 persen,sehingga belum maksimal.
"Menurut perhitungan kita penyerapan APBD masih sesuai dengan progres yang kita tetapkan, namun bila penyerapan lebih tinggi akan lebih baik," katanya.
Meningkatkan upaya penyerapan APBD tersebut, kata dia, Jehan berharap agar dinas dan instansi terkait yang sudah siap dan melengkapi prosedur pelelangan, agar segera melakukan pelelangan proyek sehingga pembangunan bisa segera berjalan.
Dengan realisasi proyek yang lebih cepat, tambah Jehan, akan mampu mendorong dan memutar roda perekonomian masyarakat, karena dampak dilaksanakannya proyek pembangunan cukup luas.
Selain akan ada penambahan tenaga kerja, juga belanja masyarakat akan meningkat, mulai dari pembelian bahan bangunan hingga ke konsumsi.
"Hal tersebut akan sangat bermanfaatkan bagi laju pertumbuhan ekonomi terutama menjelang Ramdhan dan Lebaran Idul Fitri," katanya.
Sementara, untuk APBD perubahan, kata Jehan, hingga kini belum diketok namun sudah selesai proses pembahasan dengan DPR Pemprov Kalsel.
Dengan adanya APBD perubahan, kata dia, maka APBD Kalsel kini totalnya menjadi Rp4,5 triliun yang sebagian besar akan dialokasikan untuk biaya pendidikan, kesehatan dan pembangunan infrastruktur.
"Untuk belanja pegawai, tidak mendapatkan tambahan, karena untuk APBD perubahan, difokokuskan pada hal-hal yang utama dengan mendesak," katanya.
Berdasarkan data dari Bank Indonesia Banjarmasin Kalimantan Selatan tingkat konsumsi masyarakat kini turun, terutama terhadap kebutuhan tersier seperti barang elektronik.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Kalimantan Maurids H. Damanik mengatakan bahwa Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilakukan oleh Bank Indonesia terhadap 70 pedagang retail menengah dan kecil di beberapa pasar tradisional dan kawasan pertokoan di Kota Banjarmasin selama Juni 2012 nilai penjualan tercatat turun -0,02 persen dibandingkan Mei 2012.
Penurunan terbesar dialami oleh kelompok barang peralatan elektronik dan komunikasi sebesar -0,40 persen dan kelompok barang budaya dan rekreasi sebesar -0,22 persen.
"Dari data SPE tersebut nampak bahwa konsumsi masyarakat terhadap barang-barang kebutuhan tersier, seperti rekreasi dan olahraga, menurun," katanya.
Tampaknya tambah dia, masyarakat lebih mendahulukan belanja atau konsumsi barang kebutuhan pokok seperti beras, minyak dan lainnya atau kebutuhan primer akibat naiknya hampir sebagian besar barang kebutuhan pokok saat ini.
 Kenaikan berbagai macam kebutuhan pokok tersebut, tambah Maurids, mengakibat terjadinya inflasi yang cukup tinggi di Banjarmasin saat ini/B/D.
: Hasan Zainuddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.