Sebagai contoh, kuburan muslimin "Karang Panci" di Jalan A Yani Km23 Banjarmasin, peziarah banyak yang datang dengan naik mobil dan kendaraan bermotor roda dua.
Oleh karena itu, mobil dan sepeda motor peziarah terpaksa diparkir sampai ke tepi jalan raya, sebab lapangan parkir kubur Karang Panci itu tak mampu lagi menampung.
Begitu pula kuburan muslim di Pulau Beruang Banjarbaru yang berdampingan dengan kubur kaum Nasrani (28 Km dari Banjarmasin), ramai dikunjungi peziarah. Mereka tak surut pulang, kendati dalam keadaan hujan gerimis.
Ramainya peziarah tersebut membuat arus lalu lintas angkutan umum dari/ke Banjarmasin sedikit terganggu, karena selain banyak mobil yang parkir di tepi jalan raya, juga keluar masuk kendaraan warga yang melakukan ziarah kubur.
Warga masyarakat banyak melakukan ziarah kubur menjelang Ramadhan 1433 H pada hari Minggu, kendati bulan puasa/suci tersebut masih sekitar lima hari lagi.
"Pasalnya, kalau ziarah pada hari kerja, tidak mungkin. Sebab pulang kantor sudah pukul 15.30 Wita, sehingga waktunya agak sempit atau terlalu kesorean," ujar Laily, warga Banjarmasin yang menziarahi makam suaminya.
"Apalagi di musim penghujan, maka ziarah lebih baik pagi hari. Karena kalau sudah pukul 14.00 Wita atau menjelang sore biasanya hujan turun dan sulit untuk ziarah," kata ibu dari dua anak tersebut.
Seiring dengan ramainya peziarah, juru parkir kendaraan juga menjadi panen, seperti di kubur Karang Paci dan Pulau Beruang.
Begitu pula penjual kembang (bunga) tabur untuk keperluan ziarah, turut meraup keuntungan, karena selain banyak laku, juga harga jual agak naik dibanding hari-hari biasa. C
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.