Rumah makan ataupun restoran (termasuk cafe-cafe) di Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan dan sekitarnya belakangan terus berkembang.

"Karena usaha bidang kuliner yang dikemas dalam bentuk rumah makan dan apapun sebutannya, nampaknya cukup memberikan harapan," ujar pendiri Pondok Makan Mawar, Fitri, di Banjarmasin, Selasa.

Ia mencontohkan, pondok makan yang didirikannya di Jalan Kacapiring V Banjarmasin sekitar satu tahun lalu, untuk sementara cukup lumayan memberikan penghasilan keluarga.

Namun pengusaha yang mengaku "jatuh - bangun" tersebut tak menyebut omset pondok makan yang dikelolanya, kecuali menyatakan, akan memberikan pelayanan semaksimal mungkin kepada tamu yang mau menikmati masakan/makanan khas daerah Banjar Kalsel.

Sebagai contoh, menyediakan menu masakan/makanan khas daerah Banjar yang belum banyak terdapat di rumah-rumah makan atau restoran di Banjarmasin, seperti "jaruk tigarun" (sejenis asinan/permentasi dari dedaunan khas pedalaman Kalsel).

Selain itu, "walut bapais" (pepes belut) serta "jaruk kalangkala" (sejenis asinan/permentasi dari buah kalangka/pohon khas pedalaman Kalimantan, yang isinya hampir sama dengan buah avokat.

Begitu pula suasana pondok, bisa sebagai tempat santai, jauh dari kebisingan hiruk-pikuk lalu lintas kendaraan bermotor, serta dengan biaya yang terjangkau/tidak terlalu mahal.

Sementara bagi mereka yang tak bisa/menyenangi jenis ikan air tawar, seperti "haruan" (ikan gabus), "papuyu" (sejenis betok), lais dan patin, sebagai pilihan (alternatif) juga tersedia ayam/bebek goreng.

Selain membangun pondok makan, keluarga Fitri tersebut melakoni berbagai usaha, antara lain menyediakan penyewaan tenda serta membuat pesanan karangan bunga, dan akan memulai pembuatan kue kering.

Menurut Shopian dan Yana, wartawan yang tergabung dalam Journalist Parliament Community (JPC) Kalsel, yang menarik dari manajemen Pondok Makan Mawar, yaitu tidak buka pada bulan Ramadhan, baik untuk orang berbuka puasa maupun lainnya.

"Padahal kalau buka di bulan puasa, mungkin akan laris pesanan, karena suasana tempat yang santai dan masakannya yang enak," ujar kedua jurnalis harian umum di Banjarmasin itu.

Sedangkan alasan Fitri tak bukan di bulan Ramadhan, cukup sederhana, yaitu tidak mau repot melayani orang yang mau berbuka puasa serta akan kerepotan buat melaksanakan shalat Maghrib, Isya dan shalat tarwih.

  "Sebab jarang waktu antara shalat Maghrib ke Isya dan ke shalat tarwih, relatif pendek. Sementara pekerjaan sehabis berbuka puasa menumpuk," jawabnya singkat./Shn/D




: Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026