Forum Peduli Banua (FPB) Provinsi Kalimantan Selatan siap melayangkan gugatan sebagai langkah advokasi terkait pelayanan listrik di provinsi setempat yang masih belum maksimal.
"Kami akan melakukan advokasi terhadap pelayanan listrik di Kalsel yang belum maksimal dan masih banyak dikeluhkan masyarakat," ujar Koordinator FPB Pusat Gusti Nurpansyah kepada wartawan, Selasa.
Sebelumnya, forum yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat Kalsel tersebut sudah melakukan advokasi terhadap kebijakan penambahan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi bagi provinsi setempat.
Menurut Ifansyah, langkah yang dilakukan dalam advokasi bagi masyarakat itu melalui pemasangan spanduk berukuran besar di beberapa lokasi strategis sehingga bisa diketahui masyarakat luas.
"Lokasi strategis yang dipilih diantaranya depan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, depan Unlam Banjarbaru, dan spanduk di depan gedung DPRD Kalsel," ungkapnya.
Namun, kata dia, pihaknya masih belum menentukan waktu kapan pemasangan spanduk yang intinya siap membela kepentingan masyarakat terkait pelayanan kelistrikan yang masih jauh dari harapan.
Koordinator penggugat Surya F Adimansyah menambahkan, spanduk yang dipasang berisi tanda tangan anggota masyarakat sebagai bukti dukungan atas gugatan dan advokasi yang akan dibawa ke PT PLN Pusat.
"Kami juga akan membagikan selebaran berisi draft tuntutan kemudian meminta masyarakat membubuhkan tanda tangan sebagai tanda setuju dan mendukung advokasi yang dilakukan," ujarnya.
Disebutkan, draft tuntutan berisi pernyataan mendesak pemerintah pusat segera memenuhi kebutuhan energi listrik rakyat Kalsel yang sudah menderita akibat byarpet (hidup-mati listrik) dalam tempo yang sesingkatnya.
Ditekankan, pemenuhan energi listrik bagi masyarakat Kalsel tidak sepadan dengan produksi bahan baku yang dihasilkan karena lebih dari 73 persen produksi batu bara Kalsel dipasok untuk kebutuhan luar negeri.
"Sisanya hanya sebesar 27-29 persen digunakan untuk kebutuhan dalam negeri dan sebagian besar memasok konsumsi energi dan industri di Jawa, termasuk Sumatera, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan," sebutnya.
Ditambahkan, sejak tahun 1990 hingga saat ini masih terdapat 162 desa yang belum teraliri listrik padahal Kalsel termasuk pemasok batubara terbesar kedua sebagai sumber energi listrik di Indonesia.
 "Atas keprihatinan terhadap kondisi listrik di Kalsel maka kami sangat mengharapkan dukungan dan mengajak seluruh masyarakat Kalsel mendukung langkah yang akan dilakukan," katanya/Zal;/D.
: Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.