Meski tidak berada di daerah lempengan tektonik yang merupakan rawan gempa bumi seperti Sumatera, Jawa dan Sulawesi, tapi Kabupaten Kotabaru tergolong sering mengalami bencana cukup menjadi perhatian nasional.

Seperti banjir yang disebabkan meluapnya Sungai Baharu menyebabkan lima korban meninggal dunia akibat terseret banjir (3/3/12).

Tenggelamnya kapal cargo KM Kannonsan yang membawa sekitar 800 ton semen tenggelam di perairan Kotabaru (31/1/12).

Serta KM Martasia yang membawa lebih 100 orang penumpang tenggelam di perairan Tanjung Dewa Kotabaru (6/6/11) yang menewaskan 29 orang penumpangnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Kotabaru KH Mukhtar Mustajab mengatakan, sebagai bentuk kearifan lokal, para imam masjid dan mushola di Kotabaru diimbau untuk mendokan bangsa ini, terutama Kotabaru agar terhindar dari mara bahaya.

"Kami meminta setiap kali berdoa, para imam tidak lupa meminta kepada Allah SWT agar Indonesia, khususnya Kotabaru dihindarkan dari bala bencana," kata Mukhtar.

Bencana menurut Ketua MUI Kotabaru, bisa sebagai teguran Allah atas dosa yang dilakukan hambanya, dan bisa juga sebagai ujian untuk mengukur tingkat keimanan seseorang di mata sang Khaliq.

Meminta diselamatkan dari mara bahaya bukan hanya disampaikan oleh para imam masjid dan mushola saja selesai sholat lima waktu.

Khotib Jumat dan ustadz dan penceramah di majelis-majelis ta'lim selalu mengalawi dan mengakhiri pertemuanya dengan berdoa meminta kepada Allah SWT agar seslalu diberi keselamatan dunia dan akhirat.

Masyarakat muslim Kotabaru juga sering melakukan doa sebagai bentuk kearifan lokal, seperti kegiatan istighosah bersama secara rutin yang dilakukan oleh siswa-siswi SD hingga SLTA di Kotabaru.

Belajar dari bencana alam yang terjadi di Aceh, Yogjakarta dan daerah-daerah lain di Indonesia, masyarakat Kotabaru patut bersyukur karena hal itu tidak terjadi di kabupaten yang terdiri dari 110 kepulauan itu.

Dia berharap, kearifan lokal juga dimiliki oleh masyarakat kotabaru dimanapun ia berkiprah. Pada kelompok masyarakat nelayan di Kotabaru, sering melakukan ritual-ritual khusus agar terhindar dari bencana.

"Ritual tersebut bukan hanya minta terhindar bala musibah, tetapi juga meminta agar diberi rizki yang banyak oleh Allah SWT melalui hasil tangakapan ikan," kata keluarga H Supu di Kotabaru.

Ritual tersebut dilakukan secara terjadwal dan tidak terjadwal, terutama pada menjelang turun ke laut atau menghadapi musim gelombang besar.

Diantara ritual yang dilakukan secara terjadwal, pesta menumpahkan darah ke laut (macceratasi), dan memberikan makanan ke laut (mappanretasi).

Kepala Dinas Pariwisata Kotabaru H Rairajuni menuturkan mungkin bisa digolongkan sebagai kearifan lokal, kegiatan-kegiatan ritual yang di lakukan oleh kelompok masyarakat Kotabaru, karena isi dan tujuannya juga meminta keselamatan.

Seperti halnya, Grebek Suro tahun baru Hijriah oleh suku Jawa, yang dilaksanakan setiap Januari, upacara Adat Babalian Tandik Suku Dayak, di pada Februari, dan upacara adat Mallasuang Manu.

Mappandosasi suku Mandar yang digelar setiap Maret, upacara adat Majompi suku Mandar di bulan April, dan upacara adat Mappanretasi di Pulau Sembilan. Serta selamatan laut warga Rampa pada bulan Mei, dan upacara adat Bawanang suku Dayak pada Bulan Juli.

Selamatan Kampung Kerasiaan adat suku Mandar pada bulan Juli, upacara sukuran laut Mappanretasi masyarakat Lontar di Pulau Laut Barat pada Bulan Agustus dan selamatan Tanjung di Tanjung Kembar di Sungai Pasir Pulau Laut Tengah.

Juga upacara adat Macceratsi, pendarahan laut yang dilaksanakan oleh kelompok nelayan di Sarang Tiung pada bulan Desember.

Selain memiliki daya tarik wisata, kata Rairajuni, upaca adat dan ritual dari berbagai daerah di Indonesia yang diselenggarakan di Kotabaru itu juga salah satu bentuk kearifan lokal atau kebiasaan yang dilakukan masyarakat setempat sejak turun temurun.

Perbaiki lingkungan Seperti dalam perspektif Islam, yang dijelaskan dalam Alqur'an Surat Ar-Ruum ayat 41, bahwa "Semua kerusakan yang terjadi di daratan dan lautan adalah akibat ulah tangan manusia sendiri.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".

Serta Surah Al A'raf ayat 56-58, "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahma Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan.

Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.

Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana.

Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami)bagi orang-orang yang bersyukur".

Untuk menyempurnakan ikhtiarnya, agar terhindar dari bencana alam, Pemkab Kotabaru melalui beberapa instansi terkait mencoba melakukan perbaikan lingkungan yang kritis.

Seperti halnya Dinas Kehutanan setempat, dalam beberapa tahun terakhir telah berhasil merehabilitasi hutan kritis lebih datri 6.000 hektare.

Kepala Dinas Kehutanan Kotabaru H Gusti Syahruddin, mengatakan, pada 2011 Kotabaru merehabilitasi hutan seluas 3.000 hektare di hutan lindung Sebatung.

Hingga 2009, Dinas Kehutanan telah melakukan rehabilitasi hutan seluas 3.578 ha, terdiri atas pembuatan hutan rakyat seluas 733,50 ha, pembuatan unit percontohan UPS seluas 10 ha, pembuatan tanaman reboisasi hutan lindung 233 ha dan unit percontohan rehabilitasi hutan bakau seluas 20 ha.

Serta reboisasi hutan lindung seluas 439 ha, reboisasi hutan produksi seluas 600 ha, rehabilitasi hutan mangrove 260 ha dan pembuatan hutan rakyat seluas 350 ha.

Selain merehabilitasi hutan, upaya menjaga keseimbangan lingkungan Dinas Kehutanan juga membuka program hutan tanaman rakyat (HTR) yang melibatkan masyarakat sekitar hutan produksi seluas 3.900 hektare.

Program tersebut, menurut Kabid Tataguna Hutan H Sukrowardi sebagai usaha pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

"Masyarakat yang ada di sekitar hutan tidak lagi merasa menjadi penonton, tetapi dia akan menjadi pelaku langsung dalam menjaga dan memanfaatkan hutan sebagai sumber penghidupan," jelasnya.

Mereka, kata dia, akan diberi kesempatan untuk mengelola satu sampai dua hektare hutan produksi di luar kawasan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk ditanami karet atau buah-buahan.

Sementara kawasan yang masih tumbuh kayu hutannya, dilarang menebang tetapi diminta untuk tetap merawat dan menjaga dari penjarahan.



Pewarta: Imam Hanafi
Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026