Kita mengapresiasi keinginan Pemprov mempelajari PLTS Korea Selatan (Korsel) tersebutBanjarmasin,(Antaranews Kalsel) - Komisi III Bidang Pembangunan dan Infrastruktur DPRD Kalimantan Selatan mengapresiasi pemerintah provinsi (Pemprov) setempat mau mempelajari Pembangkit Listik Tenaga Surya (PLTS) Negara Korea Selatan.
"Kita mengapresiasi keinginan Pemprov mempelajari PLTS Korea Selatan (Korsel) tersebut," ujar Sekretaris Komisi III DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) yang juga membidangi pertambangan dan energi (termasuk kelistrikan), H Riswandi SIP di Banjarmasin, Jumat.
Anggota DPRD Kalsel tiga periode itu berharap, hasil kunjungan ke Korea untuk mempelajari PLTS di "negeri genseng" tersebut dapat semakin membuka cakrawala dalam mengatasi permasalahan kelistrikan di provinsinya.
Pasalnya selama ini dalam penanganan kelistrikan di Kalsel yang terdiri atas 13 kabupaten/kota masih lebih banyak mengandalkan energi yang bersumber dari bahan baku yang tidak bisa diperbarui, seperti bahan bakar minyak (BBM) serta gas.
Selain itu, menggunakan batu bara atau "emas hitam" seperti untuk pembangkitan Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU), serta sumber daya air yang belakangan cenderung menipis buat Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA).
Sementara minyak dan gas (migas) serta batu bara pada saatnya akan habis karena tidak bisa diperbarui. Begitu pula cadangan/pontensi sumber daya air terus berkurang seiring kerusakan lingkungan hidup sebab ulah manusia sendiri.
Sedangkan sumber daya tenaga surya tak akan habis atau bisa sepanjang masa, kecuali kerusakan bumi yang semakin parah berdampak pada normalisasi tangkap sel solar tersebut.
"Hanya untuk pemanfaatan PLTS atau tenaga surya dalam skala besar, perlu kajian teknologi yang semakin canggih," tutur wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalsel IV/Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) itu.
"Oleh sebab itu, tepat sekali mempelajari PLTS pada negara yang sudah maju di antaranya Korea, jika kita ingin memanfaatkan PLTS skala besar guna mengatasi masalah energi atau kelistrikan Kalsel," lanjut politikus senior Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.
Kalsel dengan luas wilayah sekitar 3,7 juta hektare yang memiliki banyak ragam sumber daya energi yang tak bisa diperbarui atau pada suatu saat akan habis, seperti migas, batu bara, panas bumi, dan nukler.
"Karenanya merupakan langkah positif mencari atau memanfaatkan sumber daya energi alternatif yang tidak akan habis-habisnya/bisa selama dunia masih berkembang, sebelum sumber daya energi yang tak bisa diperbarui itu habis," demikian Riswandi.
Dalam hal kelistrikan di Kalsel hingga saat ini menggunakan Pusat Listrik Tenaga Desel (PLTD), PLTA, PLTU, PLTG, dan PLTS skala kecil dengan sistem panel sel solar secara sporadis pada tempat-tempat tertentu atau daerah terpencil.
Pewarta: Syamsudin HasanEditor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.