Kepala Bidang Penyuluhan dan Pemasaran pada Dinas Perikanan dan Peternakan Hulu Sungai Utara (HSU) Pariyati, Jumat mengatakan, gudang pendingin ikan kering yang ada saat ini sudah tidak mampu menampung ikan kering hasil tangkapan nelayan lokal.
"Agar semuanya bisa terlayani, petugas terpaksa membuat jadwal penyimpanan ikan kering dari para nelayan," ujarnya.
Pariyati mengaku sudah mengajukan permohonan bantuan satu paket pendingin bersama dengan bantuan sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran hasil perikanan lainnya yang nilainya sebesar Rp830 juta.
Menurut dia, apabila peminat penyimpanan membludak, sebagian ikan terpaksa diletakan di luar mesin pendingin.
Namun demikian, ikan tersebut tetap harus disimpan di ruang mesin pendingin paling lambat satu minggu agar kualitas ikan kering tetap terjaga.
Dia menjelaskan, pada 2011 gudang pendingin milik Dinas Perikanan dan Peternakan HSU telah menyimpan 144,2 ton ikan kering dengan biaya penyimpanan Rp500 per kilogram selama satu bulan.
Penyimpanan masih bisa diperpanjang lebih dari satu bulan, dengan biaya Rp2.500/kilogram per minggu khusus untuk ikan kering dari ikan laut.
Sedangkan untuk ikan tawar asin jasa penyimpanan Rp3.000/kilogram per pekan.
Karena besarnya potensi ikan air laut dan air tawar di Hulu Sungai Utara tersebut, saat ini sudah ada sekitar lima unit gudang pendingin, yaitu satu unit milik Pemkab HSU.
Tiga gudang pendingin milik masyarakat berlokasi di Kecamatan Sungai Pandan, dan satu gudang pendingin di Desa Palukahan Kecamatan Danau Panggang.
"Kecamatan Sungai Pandan memang menjadi sentra Gudang Pendingin ikan kering karena di Desa Pangkalan Sari Alabio khususnya menjadi lokasi transaksi jual beli atau pasar ikan kering terbesar di HSU," jelas Pariyati.
Die mengemukakan, gudang pendingin ikan kering milik Pemkab HSU menjadi percontohan dan paling diminati para nelayan dan pedagang ikan.
Karena dilengkapi mesin pendingin (Cold Room) menggunakan isolasi dinding atap (Polyurethane) dan isolasi lantai dengan suhu +2 hingga -5 drajat celsius.
Gudang pendingin ikan tersebut juga sudah memberikan pendapatan pada Penerimaaan Asli Daerah (PAD) HSU.
"Pada APBD 2011, gudang pendingin sudah memberikan kontribusi PAD sebesar Rp72 juta," imbuhnya.
Kedepannya, kata Pariyati, potensi PAD dari jasa penyimpanan ikan kering dari gudang pendingin masih bisa ditingkatkan, seiring dengan luasnya rawa yang menghasilkan ikan air tawar yaitu sekitar 56, 452 hektar.
Sementara itu, data Dinas Perikanan dan Peternakan pada 2010 produksi perikanan air tawar HSU untuk mencapai 12.505 ton dan produksi pengolahan sebesar 1.756 ton./edy/C
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.