Berbeda dengan di pulau Jawa, pengurangan lahan persawahan terjadi karena alih fungsi menjadi lahan permukiman penduduk.
Namun untuk di Kalimantan Selatan, khususnya di Kabupaten Kotabaru menyusutnya lahan persawahan karena beberapa faktor.
Pertama, karena alih fungsi areal persawahan menjadi lokasi pertambangan batubara ataupun bijih besi, batu kapur, marmer dan pasir.
Kedua, areal persawahan berubah fungsi menjadi areal perkebunan kelapa sawit atau perkebunan karet. Ketiga, karena pemekaran wilayah kabupaten.
Seperti yang dialami Kotabaru pada 2003, di mana pada saat terjadi pemekaran Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Kotabaru kehilangan sekitar 15.000 hektare lahan yang produktif.
Sebelum memekarkan Tanah Bumbu, Kotabaru menjadi salah satu kabupaten kota di kalimantan Selatan yang berswasembada beras.
Namun setelah pemekaran, Kotabaru kembali menjadi daerah yang menggantungkan kebutuhan pangannya dari luar daerah.
Sejak saat itu, Pemkab Kotabaru melakukan percetakan sawah besar-besaran setiap tahun anggaran. Kotabaru yang berpenduduk sekitar 290.142 jiwa (sensus penduduk 2010) itu berupaya dengan keras untuk menjadi daerah yang berswasembada.
Kepala Dinas Pertanian Kotabaru H Zuhairil Anwar, mengatakan, untuk mendukung program swasembada beras Pemkab Kotabaru beberapa tahun terakhir terus melakukan perluasan areal tanam. Pada APBD 2012 Kotabaru mentargetkan mencetak sawah seluas 1.000 hektare untuk mendukung program swasembada beras tersebut.
"Kita mendapatkan alokasi dana dari pusat sekitar Rp10 miliar untuk cetak sawah seluas 1.000 hektare," kata Zuhairil didampingi Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian Purwanto. Setiap hektarenya, lanjut dia, akan mendapatkan alokasi dana sebesar Rp10 juta.
Dana tersebut akan diberikan kepada warga berupa kegiatan pembukaan lahan, pengadaan pupuk, benih dan biaya operasional lainnya.
Pencetakan sawah 1.000 hektare tersebut akan dilaksanakan di Desa Sesulung 150 ha, Mulyo Dadi 75 ha, Sakalimau 150 ha, dan Talusi 150 ha, Kecamatan Pamukan Selatan. Basuang 150 ha, Kecamatan Sampanahan, Karang Payau 150 ha Kecamatam Kelumpang Hulu, dan Mangga 250 ha, Pudi 150 ha, Sungai Seluang 100 ha, Sulangkit 100 ha dan Wilas 100 ha Kecamatan Kelumpang Utara.
Diharapkan, dengan tambahan cetak sawah baru seluas 1.000 ha tersebut, realisasi program swasembada beras akan semakin kuat. "Mungkin cetak sawah 1.000 ha ini yang terluas di Indonesia," tambah Purwanto.
Sedangkan pada APBD 2011 Pemkab Kotabaru mencetak sekitar 950 hektare sawah di lahan kering dan basah untuk meningkatkan produksi padi.
"Pembiayaan cetak sawah itu bersumber dari dana APBD dan APBN yang besarnya sekitar Rp6,250 miliar," kata Kepala Dinas Pertanian.
Cetak sawah tersebut terdiri atas 600 hektare di lahan persawahan dan 350 hektare di lahan kering. Khusus untuk cetak sawah di lahan basah pemerintah mengalokasikan dana sekitar Rp4,5 miliar. Sedangkan untuk cetak sawah di lahan kering disediakan dana sekitar Rp1,75 miliar atau sekitar Rp5 juta per hektare.
Zuhariaril menjelaskan, cetak sawah tersebut tersebar di beberapa kecamatan di Kotabaru, di antaranya di wilayah Kecamatan Pulau Sembilan. Kepulauan yang berbatasan dengan Jawa Timur tersebut mendapatkan jatah cetak sawah di lahan kering sekitar 150 hektare.
Ia mengatakan mencetak sawah lahan kering tersebut merupakan upaya pemerintah daerah dalam mengantisipasi terjadinya rawan pangan di pulau itu.
Program tersebut melibatkan sekitar 150-300 kepala keluarga yang tergabung dalam Kelompok Tani Matasirih. Khusus untuk janda, ujar Zuhairil, diberi jatah cetak sawah 0,5 hektare, sedangkan lainnya mendapatkan jatah mencetak satu hektare.
Program tersebut, petani mendapatkan bantuan biaya pembukaan lahan, sarana produksi, berupa benih herbisida, insektisida, rodentisida, dan fungisida dengan total Rp5 juta per hektare. "Dana tersebut merupakan hibah dan tidak harus dikembalikan oleh petani," katanya Produksi 110 ribu ton.
Dengan luas tanam sekitar 27.000 hektare, Kabupaten Kotabaru pada 2011 Kotabaru mampu memproduksi gabah kering panen sekitar 81 ribu ton.
Zuhairil optimistis, pada 2012 Kotabaru mampu menghasilkan gabah kering panen sekitar 108 ribu-110 ribu ton.
"Target tersebut akan dicapai melalui dua program unggulan," jelas Zuhairil. Program unggulan pertama, cetak sawah 1.000 hektare diharapkan mampu menambah produksi sekitar 3.000 ton.
"Kami mentargetkan sawah baru tersebut berproduksi sekitar 3 ton per hektare," ujarnya. Program unggulan kedua, intensifikasi 7.200 hektare dengan alokasi dana sekitar Rp1,3 miliar.
Saat ini, ujar Zuhairil, produksi gabah kering giling per hektare rata-rata sekitar 4,15 ton per hektare.
Dengan diberikan bantuan benih unggul, seperti Ciboga dan Cisadane, dan pelatihan para petani, diharapkan mampu meningkatkan produksi gabah menjadi 4,2 ton-4,3 ton per hektare. Zuhairil mengakui, kegagalan produksi tahun 2010, dan 2011 menjadi pelajaran untuk musim tanam 2012.
Pada 2010 produksi gabah berkisar 93 ribu ton dari luas tanam sekitar 26.600 hektare.
Sedangkan pada 2011 produksi gabah hanya sekitar 81 ribu ton dari luas tanam sekitar 27.000 hektare. Salah satu yang menjadi kendala tidak tercapainya target produksi 2010, akibat tingginya curah hujan, yang menyebabkan petani tidak dapat bercocok tanam, khususnya padi gogo (gunung).
Serta pergeseran musim tanam, yang seharusnya dimulai antara Agustus-Oktober berubah menjadi Desember-Februari. "Penyebabnya karena kondisi cuaca ekstrem," terangnya.
Banyak langkah strategis yang dilakukan Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian Kotabaru agar target produksi 112 ribu ton itu dapat terealisasi.
Membagikan bantuan sarana produksi, diantaranya memberikan bantuan hand tractor dan mesin pompa kepada petani dan kelompok tani di daerah.
Serta meningkatkan produktivitas lahan dari kurang 2,5 ton per hektare untuk padi gogo menjadi diatas 2,5 ton per ha. Begitu juga dengan produksi padi sawah yang sebelumnya rendah kini mencapai 4,15 ton-4,3 ton per hektare./C/C
Pewarta: Imam Hanafi Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.