Saat itu kami sedang bersantap siang di pusat Kota Pasir Gudang, Johor, Malaysia, sekitar pukul 12.00 waktu setempat, sesaat sebelum azan salat Jumat dikumandangkan, 24 Februari lalu.
Samad berasal dari Perak, sebuah kota setingkat kabupaten di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah etnis Banjar. Ia saat ini berdomisili di Kota Masai, Pasir Gudang, Johor, kota terdekat dengan Singapura dan hanya satu setengah jam perjalanan menggunakan ferry cepat dari Batam, Indonesia.
Ia merupakan generasi kedua yang lahir dan besar di Malaysia. Puluhan bahkan mungkin ratusan tahun silam, “Datu Nini†atau nenek moyang Samad bermigrasi ke Tembilahan, Indragiri Hilir, Riau, untuk kemudian merantau ke Malaysia. Meskipun sudah pernah menginjakkan kaki di Banjarmasin dia tidak tahu persis sebaran sanak keluarganya di “tanah Sultan†ini.
Samad termasuk salah satu sosok keturunan Banjar yang sukses di negeri Jiran. Ia memiliki pekerjaan dan posisi sangat bagus di sebuah “kilang†atau pabrik. Selain itu, ia juga seorang pengamat ekonomi sehingga perannya dalam perkembangan perekonomian Malaysia tidak bisa dipandang sebelah mata. Beberapa pengusaha besar dari Indonesia bahkan menjadi “klienâ€nya dalam urusan ekonomi dan dunia usaha.
Lain Samad, lain pula Azlan yang juga memiliki kehidupan mapan di negeri jiran. Lelaki keturunan Banjar yang juga lahir di Perak itu, “Datu Niniâ€nya urang (orang/warga/penduduk/etnis) Banjar yang bermigrasi langsung ke Malaysia. Ia kini bekerja di Universiti Putra Malaysia (UPM), menjadi semacam staf administrasi di sebuah fakultas di universitas ternama tersebut.
Ia merupakan generasi keempat keturunan Banjar yang lahir, besar dan bermukim di Malaysia. Tinggal di Selangor, Azlan menikah dengan wanita yang juga keturunan Banjar dan sudah beberapa kali berkunjung ke Banjarmasin.
Pernikahannya dengan sesama keturunan Banjar, membuat ia lebih mudah menyisir sebaran sanak keluarganya di tanah leluhur.
Selain Azlan, masih ada keturunan Banjar lainnya yang juga sukses dan bekerja dilingkup dunia pendidikan Malaysia. Sebut saja Arshad yang bekerja di Fakultas Penyelidikan dan Kemajuan Pertanian Malaysia atau Malaysian Agriculture Research and Development Institute (MARDI), UPM dan Seidi yang bekerja di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Johor.
Arshad masih sangat fasih berbahasa Banjar. Mendengarnya bicara, mengingatkan pada urang Kandangan, subetnis Banjar di kawasan Banua Anam atau Pahuluan. Sedikit keras dan tegas, khas dialek “bubuhan†Kandangan.
Peran etnis Banjar didunia pendidikan Malaysia tidaklah sedikit. Sebut saja Mohammad Salleh Lambry yang mantan staf pengajar atau dosen di Jabatan Antropologi dan Sosiologi Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Saat ini, ia menjadi Sarjana Tamu atau Dosen Tamu di Institut Kajian Malaysia dan Antar Bangsa (IKMAS), UKM.
Selain Mohammad Salleh Lambry, ada lagi Saleh Kasim yang juga dosen di sebuah universitas ternama di Selangor. Ia saat ini sudah pensiun dan menjadi Ustadz, profesi yang lekat dengan budaya Banjar Islam.
“Mantan Rektor UPM yang baru saja pensiun juga keturunan Banjar,†ujar Arshad sambil mengendarai mobilnya, saat mengajak berkeliling komplek UPM yang terdiri dari 15 fakultas, enam institut dan dua akademi itu.
Disektor swasta juga banyak urang Banjar keturunan yang berperan dan sukses di Malaysia. Sebut saja Kamar Mohamed Zaman. Ia yang saat ini berdiam di Selangor, bekerja sebagai konsultan. Atau Izhar Aziz yang seperti juga Kamar Mohamed Zaman, lelaki keturunan Banjar dari Teluk Intan itu kini tinggal di Selangor dan berprofesi sebagai kontraktor.
Etnis Banjar memiliki peran penting nyaris disemua sektor kehidupan di Malaysia. Terlebih dalam pembangunan keagamaan, peran urang Banjar sangatlah besar. Sesuai dengan ciri khas urang Banjar yang kuat memegang syariah Islam, banyak tokoh ulama dan guru besar keagamaan di Malaysia yang berasal dari etnis Banjar.
Sebut saja Syekh Syihabuddin Al-Banjari, Tuan Guru Muhammad Saman Bin Muhammad Ustadz Mat Saman Kati yang merupakan ulama tasawuf dari Perak, Dato Ishak Baharom yang mantan mufti negeri Selangor, Syekh Husein Kedah Al Banjari yang mantan mufti negeri Kedah dan Dato Seri Harussani bin Haji Zakari yang merupakan mufti negeri Perak.
Penerapan Konsep “Bubuhanâ€
Pada awal kedatangan urang Banjar ke Malaysia -diperkirakan sekitar abad ke-19, dengan Batu Pahat, Johor sebagai lokasi awal migrasi- mereka membentuk kelompok pemukiman sendiri yang terpisah dari penduduk lokal dari etnis Melayu. Urang Banjar yang menganut konsep “bubuhan†atau kekerabatan, menerapkan hal itu di tanah yang baru di datangi.
Hal tersebut menjadi ciri khas tersendiri dari para migran asal Banjar. Konsep “bubuhan†yang hanya membentuk hubungan dengan sesama etnis, membuat mereka tertutup dari etnis lain, kecuali untuk sektor dunia usaha. Hal itu pula yang akhirnya membuat urang Banjar di Malaysia jarang melakukan perkawinan antar etnis. Perkampungan urang Banjar di Malaysia saat itu berperan lebih dari sekedar sebuah desa tetapi merupakan satu kesatuan unit politik, ekonomi, genealogi dan keagamaan.
Konsep “bubuhan†yang diberlakukan akhirnya menjadi perekat dan pondasi kuat bagi keberlangsungan budaya dan adat istiadat. Tutur bahasa Banjar terjaga baik hingga saat ini, khususnya di wilayah pedesaan tempat asal migrasi mereka. Tutur bahasa yang digunakan sehari-hari bahkan lebih kental dibandingkan masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan sendiri sebagai daerah asal.
Bila di Kalimantan Selatan Bahasa Banjar yang digunakan sudah banyak bercampur dengan bahasa Indonesia, di Malaysia tutur yang digunakan terdengar sedikit aneh untuk ukuran urang Banjar saat ini.
Karena mereka bertutur dalam bahasa dan dialek asli sehingga masih banyak menggunakan istilah dan bahasa yang saat ini di Kalimantan Selatan sendiri sudah tidak digunakan lagi.
“Untuk daerah pedesaan, justru bahasa Melayu yang terkontaminasi penggunaan bahasa Banjar karena kentalnya tutur bahasa tersebut pada kehidupan sehari-hari,†Azlan menjelaskan.
Pada masyarakat Banjar dikenal budaya “madam†atau migrasi. “Madam†biasanya dilakukan bila daerah asal dirasa tidak lagi menjanjikan baik dari segi usaha maupun penghidupan karena adanya tekanan dari pihak lain. karena itulah, urang Banjar yang bermigrasi memiliki sikap keras dan teguh memegang prinsip. Salah satunya adalah keteguhan memegang dan menerapkan ajaran syariat Islam dan prinsip tidak mau bekerja di bawah penguasaan orang lain.
Syariat Islam yang dipegang kuat terlihat dari sistem pedidikan urang Banjar di perantauan, dimana mereka lebih mengajarkan syariat Islam dan menyekolahkan anak hanya pada sekolah berbasis agama. Sistem pendidikan seperti itu akhirnya membentuk karakteristik urang Banjar dengan peran yang besar pada perkembangan Islam di Malaysia.
Banyak urang Banjar akhirnya menjadi ulama dan tuan guru keagamaan yang terkenal dan mumpuni di tanah Melayu tersebut. Hal itu sesuai dengan budaya pada masyarakat Banjar yang sangat menghormati seorang pemuka agama dan ulama.
Prinsip tidak mau bekerja di bawah penguasaan orang lain, erat hubungannya dengan konsep “bubuhan†yang diterapkan dan sikap protektif yang tinggi di kalangan urang Banjar. Itulah mengapa, hingga tahun 60-an sangat sedikit urang Banjar yang bekerja sebagai pegawai pada kerajaan Malaysia.
Etnis Banjar Malaysia lebih senang mandiri, mayoritas mereka berprofesi sebagai petani dan berkebun, sesuai dengan keahlian urang Banjar yang terkenal sebagai perambah hutan serta tangguh dalam membuka lahan.
Kesuksesan Di Negeri Jiran
Di atas tahun 60-an, kondisi tersebut mulai berubah. Khazanah kehidupan urang Banjar di Malaysia mulai mengalami pergeseran. Hal tersebut sejalan dengan definisi konstitusi Kerajaan Malaysia yang menyebutkan bahwa orang Melayu adalah muslim, menggunakan bahasa Melayu dan menjalankan adat serta kebudayaan Melayu.
Berdasarkan konstitusi tersebut, secara teknis urang Banjar yang nota bene kaum pendatang juga masuk dalam kategori sebagai orang Melayu sehingga otomatis mendapatkan pengakuan sebagai warga Negara yang memiliki hak sama dengan penduduk lokal.
Sebagai penduduk lokal, etnis Banjar kemudian mendapatkan juga hak istimewa berupa kesempatan lebih untuk berperan dalam pembangunan dibandingkan penduduk nonlokal dari etnis Tionghoa atau India, misalnya.
Etnis Tionghoa dikenal sebagai pelaku ekonomi handal. Tak terkecuali di Malaysia. Tetapi saat ini, urang Banjar di Malaysiapun banyak yang sukses dibidang perniagaan. Banyak dari urang Banjar di Malaysia yang berperan aktif dalam dunia industri.
Sebagai orang Melayu -berdasarkan konstitusi Kerajaan Malaysia- yang memiliki hak istimewa, urang Banjar kini telah banyak yang memiliki pendidikan tinggi. Mereka tersebar di kota-kota besar di Malaysia dan memiliki kehidupan mapan serta sukses.
“Urang Banjar diperantauan menghadapi persaingan yang lebih keras dibandingkan mereka yang tinggal di “banua†(sebutan lain dari daerah Banjar). Karena itulah, urang Banjar di Malaysia cenderung lebih sukses secara ekonomi, selain karena faktor perbedaan nilai tukar mata uang yang cukup besar antara Ringgit Malaysia dengan Rupiah Indonesia,†kata Samad.
“Kemalasan†urang Banjar dibanua sendiri memang terlihat nyata. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka berada didaerah sendiri sehingga cenderung menjalani hidup lebih santai.
Sebagai kaum mayoritas di banua, urang Banjar tidak terlalu khawatir tentang persaingan.
Berbeda dengan urang Banjar di Malaysia, mereka harus mampu membuktikan eksistensi di negeri orang. Hal tersebut juga terkait erat dengan budaya madam dimana tertanam suatu tekad agar harus berhasil dinegeri orang.
Pada budaya madam terdapat satu pemahaman yang dipegang kuat oleh para pelaku migrasi dimana “bila wani madam, pamali bulik ka kampung mun masih sakit†atau bila sudah berani bermigrasi maka tidak akan pulang sebelum kehidupan lebih baik.
Karena salah satu tujuan migrasi yang dilakukan adalah untuk mencari penghidupan yang lebih baik dan pembuktian sebuah kesuksesan.(Nadi/A)
Pewarta: RusmanadiEditor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.