Tabalong Kalsel (ANTARA) - Anggota Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel), Firman Yusi mengusulkan agar "Corporate Social Responsibility" (CSR) PT Bank Kalsel fokus bangun ekosistem eksportir muda. 

Usulan Firman Yusi  yang juga Sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kalsel itu dalam keterangan persnya, Jum'at sore, sehubungan rencana peningkatan status Bank Kalsel atau "Banknya Urang Banua" menjadi bank devisa. 

Rencana besar Bank Kalsel untuk segera meluncurkan diri sebagai Bank Devisa mendapat dukungan sekaligus catatan strategis dari kalangan parlemen. Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) termasuk Firman Yusi. 

Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin itu mengusulkan agar Bank Kalsel mulai mengorientasikan program CSR secara tematik untuk membangun ekosistem ekspor yang kuat di Banua.

Secara khusus, Anggota DPRD Kalsel dua periode itu mendorong agar CSR atau dana tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan tersebut dialokasikan untuk mencetak dan membina wirausaha muda ekspor (young exportpreneurs) di provinsinya. 

"Status Bank Devisa ini harus membawa dampak instan dan nyata bagi perekonomian masyarakat bawah. Salah satu cara paling efektif adalah memanfaatkan dana CSR untuk melahirkan eksportir-eksportir baru dari kalangan generasi muda," ujar Firman Yusi. 

Menurut wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalsel V/Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Balangan dan Kabupaten Tabalong itu, bahwa provinsinya memiliki kekayaan potensi alam yang sangat luar biasa dan tidak hanya terbatas pada sektor pertambangan. 

Baca juga: Bank Kalsel -- Bank Indonesia kolaborasi percepat digitalisasi pembayaran

"Kalsel juga memiliki produk pertanian, perkebunan, perikanan, hingga kerajinan khas daerah memiliki peluang pasar yang sangat besar di luar negeri (global)," ujar wakil rakyat kelahiran "kota minyak" Tanjung (237 km utara Banjarmasin), ibukota Tabalong tersebut. 

Sayangnya, menurut pegiat Putra Putri Saraba Kawa (PUSAKA), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tabalong tersebut, potensi yang melimpah di Kalsel belum tergarap secara optimal karena minimnya pelaku usaha lokal yang menguasai teknik dan jaringan pasar internasional.

"Permintaan dari negara lain terhadap komoditas non-tambang kita sebenarnya terus mengalir. Masalahnya ada pada pemenuhan standar, kontinuitas produk, dan literasi ekspor. Di sinilah CSR Bank Kalsel bisa masuk; membiayai pelatihan, pendampingan mutu, hingga membuka akses pasar bagi para wirausaha muda kita," tambahkan Firman.

Baca juga: Bank Kalsel perkuat pelayanan digital di kantor cabang melalui SBS

Firman Yusi yang juga Wakil Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD Kalsel berpendapat, gagasan besar tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri. "Karenanya,  agar Bank Kalsel segera mempererat sinergi dan melakukan koordinasi yang lebih intensif dengan Dinas Perdagangan Provinsi setempat," sarannya. 

Menurutnya, Dinas Perdagangan memiliki data pemetaan pasar, regulasi ekspor, serta jaringan yang bisa dikolaborasikan dengan kemampuan finansial dan fasilitas perbankan yang dimiliki Bank Kalsel.

Untuk mewujudkan ekosistem tersebut, Firman menjabarkan beberapa langkah konkret yang dapat diakomodasi antara lain pengembangan Export Academy yaitu program inkubasi khusus bagi pemuda Kalsel untuk belajar regulasi, kepabeanan, dan strategi mencari pembeli (buyer) luar negeri.

Ia menambahkan, bantuan Standardisasi Produk, yaitu Bantuan pendampingan sertifikasi internasional (seperti organik, halal global, atau sertifikasi mutu lainnya) bagi produk UMKM potensial dan juga Fasilitasi Business Matching untuk Membantu mempertemukan produk hasil karya wirausaha muda Kalsel dengan calon pembeli dari mancanegara.

"Jika ekosistem ini terbentuk, Bank Kalsel tidak hanya sukses bertransformasi menjadi Bank Devisa secara transaksional, tetapi juga menjadi pahlawan pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif di Kalimantan Selatan," pungkas Firman Yusi.



Pewarta: Syamsuddin Hasan
Editor : Sukarli

COPYRIGHT © ANTARA 2026