Pasalnya batamat secara tradisional di semarakan dengan balai (tempat sajian) yang warna warni menarik serta menjadi tontonan tersendiri

Hulu Sungai Tengah Kalsel (ANTARA) - Tradisi "batamat' (khatam) membaca Al Qur'an secara tradisional di kampung daerah hulu sungai atau " Banua Anam" Kalimantan Selatan (Kalsel) masih lestari. 

Pantauan Antara Kalsel, Kamis melaporkan, tradisi batamat qur'an di Desa Aluan Mati dan Desa Aluan Sumur, Kecamatan Batu Benawa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) cukup meriah. 

Batamat qur'an secara tradisional di Desa Aluan Mati dan Aluan Sumur atau pinggiran Pegunungan Meratus wilayah "Bumi Murakata" HST itu sekaligus sebagai hiburan religi nuansa Islami bagi warga masyarakat setempat. 

Seorang pemuka agama Desa Aluan Mati Guru Muhran (67) berpendapat, batamat qur'an secara tradisional salah satu cara memotivasi anak-anak atau generasi muda Islam supaya rajin belajar/membaca kitab suci yang menjadi pedoman kehidupan kaum Muslim khususnya. 

"Pasalnya batamat secara tradisional di semarakkan dengan balai (tempat sajian) yang warna warni menarik serta menjadi tontonan tersendiri," ujar kakek dari lima cucu tersebut. 

Pelaksanaan batamat tradisional di Desa Aluan Mati dan Aluan Sumur tiap tahun dirangkai dengan hari-hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha serta bulan maulid (Rabi'ul Awal). 

Seperti batamat qur'an tradisional kali ini (Kamis, 28 Mei 2026) pada tiga tempat di "langgar" (surau) dan Masjid Su'ada yaitu masjidnya kaum Muslim kedua desa Aluan Mati dan Aluan Sumur. 

"Alhamdulillah ibarat peribahasa batamat qur'an tradisional bagaikan 'tidak lapuk karena hujan, tidak lekang karena panas' artinya tetap lestari walaupun belakangan budaya asing melanda," demikian Muhran. 

Arak-arakan "batamat" (khatam) Qur'an secara tradisional di Desa Aluan Mati, Kecamatan Baru Benawa pinggiran Pegunungan Meratus wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel, Kamis (28/5/2026). (ANTARA/HO Dokumen Pribadi Dia)


Pewarta: Syamsuddin Hasan
Editor : Firman

COPYRIGHT © ANTARA 2026