Jakarta (ANTARA) - Paus Leo XIV lebih dari sekadar pemimpin Katolik. Dia sungguh penyeru kebajikan yang melintasi batas kesamaan agama, bangsa, dan budaya. Bagi dia, kebajikan, keadilan, dan rasa pengasih adalah universal yang tak dibatasi oleh perbedaan apa pun.

Untuk itu, dia lantang menyerukan perlawanan terhadap ketidakadilan di satu sisi, dan menjadi benteng moral di sisi lain. Hal itu tak saja berpandukan pada pesan dan kebenaran ilahiah, tapi juga pada konsensus sosial dalam bentuk aturan-aturan yang dibuat manusia, termasuk hukum internasional.

Maka, dia tak segan menentang petualangan Presiden AS Donald Trump di Iran ketika para pemimpin dan tokoh yang seagama dengan mayoritas penduduk Iran malah sibuk berbantah soal dikotomi Syiah dan Sunni.

Paus Leo tak melihat siapa yang diperangi Trump dan Israel. Sebaliknya, dia menentang agama dimanfaatkan untuk kekuasaan semata dan angkara pemimpin.

Dia menolak mentah-mentah upaya Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menggolongkan perang AS dan Israel terhadap Iran sebagai perang suci.

Menjawab justifikasi agama untuk perang ilegal AS di Iran yang disampaikan Hegseth itu, Paus Leo menegaskan Tuhan menolak perang dan tak dapat dipakai sebagai alasan untuk berperang.

Dalam pernyataannya yang dikutip luas oleh media massa global, termasuk Reuters, Paus Leo menyatakan Tuhan tak mendengarkan doa orang-orang yang berperang, namun malah menolaknya.

Paus Leo menolak nilai-nilai agama dimanipulasi dan dikotori oleh perang ilegal seperti terjadi di Iran saat ini. Ilegal karena perang itu tak melalui konsensus global di PBB, tanpa persetujuan parlemen AS, dan tanpa alasan yang jelas.

Iran sendiri tak pernah menyatakan perang kepada AS, sebelum AS dan Israel menyerangnya mulai akhir Februari lalu. Sebaliknya, Iran justru sedang sibuk bernegosiasi ketika militer AS dan Israel menyerangnya atas titah Trump dan Benjamin Netanyahu.

Dalam pandangan Paus Leo, perang di Iran hanya menunjukkan permusuhan yang dengan begitu bertentangan dengan ajaran pro-kehidupan yang dirangkul kuat-kuat oleh Gereja Katolik.

Dia pun mendesak manusia sejagat untuk "mengingat anak-anak yang tidak bersalah, lansia, dan orang sakit, serta begitu banyak orang yang telah menjadi atau akan menjadi korban dari perang".

Suara Paus Leo semakin keras manakala Trump mengancam melenyapkan peradaban Iran. Ancaman ini sudah melewati batas karena bukan lagi tentang penggulingan rezim dan penaklukan militer Iran.

Ancaman pelenyapan peradaban itu mengingatkan orang pada invasi Mongol di abad ke-13 yang menghancurkan banyak kerajaan di masa lalu, termasuk Daulah Abasyiah.

Penghancuran itu tak hanya soal manusia yang dimatikan dan bangunan yang dirobohkan, tapi juga tentang pelenyapan jejak peradaban dan budaya manusia, sampai literatur pun turut dimusnahkan, sehingga identitas bangsa lenyap seketika. Dan ini lebih jahat dari perang itu sendiri.

Maka wajar jika penyeru dan pelindung moral seperti Paus Leo terusik oleh ancaman Trump itu, terlebih di sisi lain bagian dari kabinet perang Donald Trump berusaha menjustifikasi agama untuk perang melawan Iran.

Karena menghancurkan peradaban sama artinya dengan melenyapkan identitas, jejak, dan sejarah umat manusia, Paus Leo menyeru umat manusia di seluruh dunia agar mendesak pemimpin-pemimpin mereka untuk segera mengupayakan pengakhiran Perang Iran.

Ironisnya, bahkan terhadap pemimpin 1,4 miliar pemeluk Katolik di seluruh dunia, Trump balas menyerang Paus. "Jika saya tak berada di Gedung Putih, Leo tak akan ada di Vatikan," balas Trump dengan angkuhnya.

Leo atau Kardinal Robert Prevost, memang Paus pertama dari Amerika Serikat. Keterpilihannya pada 2025 mengakhiri kecenderungan yang mengesampingkan AS dari pucuk Tahta Suci.

Menentang perang

Kepausan Paus Leo sendiri mengingatkan orang kepada Paus Yohanes Paulus II, yang adalah Paus non Italia pertama dalam kurun 450 tahun, sekaligus orang Polandia pertama yang menjadi Paus. Yohanes Paulus II terpilih pada 1978 ketika Perang Dingin dalam fase terpanasnya.

Paus Yohanes juga menentang perang di Irak pada 2003, walau Presiden George Bush waktu itu "lebih beradab" ketimbang Trump saat ini, karena menggalang dukungan internasional terlebih dulu di PBB, sebelum menginvasi Irak.

Kini, Paus Leo melakukannya di Iran. Dan dia balik diserang Trump, yang sama-sama orang Amerika Serikat.

Merespons serangan verbal Trump, Paus Leo menjawab, "saya tak takut, baik terhadap pemerintahan Trump, maupun dalam menyerukan pesan Injil."

Terbukti kemudian bukan Trump yang dibela dunia, melainkan Paus Leo, sampai Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni balik mengecam Trump karena telah mengkritik Paus Leo.

Meloni menyatakan adalah sudah benar dan wajar jika Paus menyeru perdamaian dan mengecam perang.

Seperti Paus Yohanes Paulus II yang menjadi energi moral untuk Gerakan Solidaritas di Polandia yang membuka kejatuhan komunisme internasional pimpinan Uni Soviet pada fase akhir era Perang Dingin, Paus Leo hadir ketika dunia berusaha dipaksa tunduk kepada yang menganggap diri paling kuat, sehingga merasa tak apa-apa berbuat sekehendak hati kepada negara lain.

Paus Leo XIV hadir tepat di tengah dunia yang sedang terancam oleh unilateralisme akut dan pembangkangan terang-terangan terhadap hukum internasional, yang sudah menjadi konsensus global.

Dia oase moral, bukan saja bagi umat Katolik, tapi juga untuk kaum lain, yang seharusnya menyingkirkan perbedaan, untuk menentang tindakan tidak adil, arogan, dan menihilkan hukum internasional.

 






Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Teladan hebat dari Paus Leo XIV di tengah kecamuk Perang Iran

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026