"Inilah yang menjadi kendala sulitnya mencari bibit-bibit olahragawan yang profesional di daerah, karena ada pihak yang masih menerjunkan atlet berskala nasional atau internasional diturunkan pada Porprov," kata Sekretaris Komite Olahraga Nasional Indonesia Kotabaru Rony Syafriansyah di Kotabaru Sabtu.
Idealnya, atlet-atlet yang sudah diturunkan pada ajang internasional tidak lagi diturunkan pada pekan olahraga provinsi, sehingga bibit-bibit atlet daerah bisa muncul ke permukaan tidak tertutupi oleh mereka yang sudah sukses di SEA Games atau yang lainnya.
"Iya sih mereka "oknum" (atlet SEA Games) hanya berburu dolar, kurang peduli terhadap kemajuan olahraga," tandasnya.
Menurut Rony yang juga Wakil Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Paris Barantai Kotabaru, idealnya pengelola olahraga bisa belajar dari Jawa Timur atau yang lainnya.
"Di Jawa Timur tidak sepi dengan bibit-bibit atlet baru yang profesional. Seperti Malang, misalnya, pengelola tidak lagi menerjunkan atlet yang berskala nasional maupun internasional di ajang Porprov," Rony menjelaskan.
Atlet-atlet yang diturunkan mengikuti Porprov yang digelar setiap dua tahun sekali bagi pemerintah daerah setempat, hanya diikuti oleh atlet kelompok umur yang masih pelajar.
"Tidak seperti di Kalsel, umur atlet-atlet Poprov di Kalsel bermacam-macam," terangnya.
Hal itulah, lanjut Rony, yang menjadi salah satu kendala utama sulitnya mencari bibit-bibit atlet yang benar-benar handal.
Pewarta: Imam HanafiEditor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.