Direktur Bank Indonesia Banjarmasin Kalimantan Selatan Khairil Anwar di Banjarmasin mengatakan pertumbuhan perekonomian Kalimantan Selatan pada 2012 diharapkan tidak terlalu terpengaruh oleh krisis ekonomi global yang mulai melanda beberapa negara.
Menurut Kharil di Banjarmasin, Rabu, prospek ekonomi nasional di tahun 2012 diperkirakan cenderung melambat seiring gejolak ekonomi global yang akan mempengaruhi kinerja ekspor termasuk ekspor dari Kalsel.
Laju pertumbuhan ekonomi Kalsel 2012 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,7 persen - 6,2 persen melambat dibanding 2011 yang diperkirakan mampu mencapai 6,3 persen.
Meski melambat, kata Kharil, masih terdapat optimisme yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tahun 2012, antara lain kuatnya konsumsi masyarakat serta pertumbuhan investasi.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi tersebut diperkirakan diikuti dengan laju inflasi yang lebih tinggi pada kisaran 6 persen + 1 persen. Hal tersebut terjadi karena terkait kebijakan pemerintah menjaga harga komoditas harga strategis.
"Namun demikian dari sisi perbankan, kami optimistis ekspansi kredit perbankan dapat menyamai pencapaian di tahun 2011 yang tumbuh di atas 20 persen," kata Khairil yang juga Direktur BI Reginonal Kalimantan.
Mendorong efisiensi perbankan dan pencapaian suku bunga yang wajar, di tahun 2012 Bank Indonesia akan melanjutkan kebijakan suku bunga dasar kredit (SBDK) untuk memastikan berjalannya mekanisme pasar. Selain itu, Bank Indonesia.
Selain itu, tambah dia, juga akan mewajibkan Rencana Bisnis Bank (RBB) untuk mencantumkan target-target peningkatan efisiensi dan penurunan suku bunga kredit.
Bank Indonesia juga akan mengkaji mengenai praktek pemberian tingkat bunga simpanan di atas tingkat bunga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) serta mengkaji pembatasan pemberian hadiah bagi nasabah.
Sementara itu, tambah Kharil, mendorong fungsi intermediasi perbankan, Bank Indonesia akan melanjutkan upaya perluasan akses perbankan kepada masyarakat pedesaan dengan biaya rendah, peningkatan kualitas program Tabunganku.
Selanjutnya, pengembangan edukasi keuangan serta memfasilitasi pembiayaan di berbagai sektor potensial.
"Di Kalsel kami melihat sektor-sektor potensial seperti pertanian, industri dan pengangkutan yang berbasis renewable resources, belum dibiayai secara maksimal oleh perbankan," katanya.
Padahal sektor-sektor ini menjadi penopang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan," katanya./B/C
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.