Barabai (ANTARA) - Banjir melanda delapan desa di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel) telah berlangsung selama hampir dua pekan, sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten HST mencatat update data per Rabu (7/1) sore sebanyak 2.787 rumah terdampak dengan 1.749 rumah di antaranya masih terendam banjir.
"Desa terdampak meliputi Sungai Buluh, Mantaas, Tabat, Pahalatan, Rantau Bujur di Kecamatan Labuan Amas Utara, Desa Kayu Rabah dan Mahang Matang Landung di Kecamatan Pandawan, serta Desa Mahang Baru di Kecamatan Labuan Amas Selatan," jelas Sekretaris BPBD dan Damkar HST Ahmad Apandi di Barabai, Kamis.
Kemudian, dampak banjir tersebut dirasakan oleh 1.835 kepala keluarga (KK) dengan total 5.254 jiwa terdampak di delapan desa dan tiga kecamatan tersebut.
Ia menjelaskan, ketinggian air di wilayah terdampak saat ini bervariasi, bergantung pada kondisi masing-masing desa.
“Ketinggian genangan di dalam rumah berkisar antara 2 hingga 20 sentimeter, sementara di pekarangan rumah mencapai 5 hingga 150 sentimeter, terutama di Desa Pahalatan,” jelasnya.
Selain permukiman warga, banjir juga berdampak pada fasilitas umum, diantaranya menggenangi 26 sekolah, 10 tempat ibadah, lima kantor, satu puskesmas, satu pasar, serta dua fasilitas umum lainnya.
Apandi menegaskan, BPBD HST terus melakukan pemantauan langsung ke lapangan untuk memastikan perkembangan kondisi banjir di wilayah terdampak.
“Kami akan terus melakukan pemantauan dan juga berkoordinasi dengan instansi terkait agar penanganan banjir dapat berjalan optimal,” katanya.
Meski banjir masih berlangsung, hingga saat ini BPBD HST belum menerima laporan adanya warga yang mengungsi.
Di samping itu, hingga kini genangan air belum menunjukkan tanda-tanda surut, bahkan di sejumlah wilayah dilaporkan terus meningkat dan cuaca jua masih sering terjadi hujan.
