Batulicin (ANTARA) - Petani asal Kecamatan Mentewe Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Suparno menginspirasi petani di "Bumi Bersujud" untuk memanfaatkan kotoran binatang ternak sebagai pengganti pupuk kimia.
"Sudah hampir enam bulan kami menggunakan pupuk kandang atau organik untuk memupuk tanaman kelapa sawit, buah yang dihasilkan tidak kalah jauh dibandingkan saat perawatan menggunakan pupuk kimia" kata Suparno di Batulicin Kamis.
Baca juga: Mentan cabut izin 190 kios pupuk tak patuhi HET turun 20 persen
Dia menjelaskan, saat beralih dari pupuk kimia ke organik, tanaman sempat mengalami penurunan pertumbuhan awal karena pupuk organik melepaskan hara secara bertahap, tidak instan seperti pupuk kimia.
Namun, dalam jangka panjang tanaman akan lebih sehat, lebih kuat menghadapi stres lingkungan, dan menghasilkan panen yang lebih berkualitas karena kesuburan tanah yang membaik secara berkelanjutan.
Peralihan menggunakan pupuk kimia ke pupuk kendang, Suparno terinspirasi saat merawat tanaman buah lengkeng yang ditanam di pekarangan rumahnya menggunakan sistem organik atau tidak menggunakan pupuk kimia sama sekali.
Dari masa tanam bibit hingga masa buah tidak pernah menggunakan pupuk kimia, semua murni memakai pupuk organik. Dan buah yang dihasilkan cukup berlimpah.
"Dari metode itu saya terinspirasi, bagaimana jika perawatan kebun kelapa sawit yang selama ini memakai pupuk kimia dialih menggunakan pupuk organik saja. Saat dicoba selama kurang lebih hampir setengah tahun, buah yang dihasilkan juga tidak kalah banyak dibandingkan dengan pupuk kimia," terang Suparno.
Hingga saat ini dia menyakini, pupuk organik jauh lebih baik dibandingkan menggunakan pupuk kimia.
Untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik, kini suparno memproduksi limbah atau kotoran hewan kambing dari hasil ternak sendiri.
Setiap bulan dari 25 ekor kambing yang dipelihara, mampu menghasilkan pupuk kendang cari sebanyak 400 liter, dan satu ton pupuk kendang padat.
"Jumlah tersebut mampu mencukupi kebutuhan nutrisi tanaman kelapa sawit seluas enam hektar, artinya saya lebih hemat sekitar 10 juta lebih saat beralih dari pupuk kimia ke pupuk organik," jelas Suprno.
Baca juga: Dinas Pertanian Tapin pastikan stok pupuk subsidi aman
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Tanah Bumbu Robby Chandra menegaskan, pemerintah daerah mendukung dan mengapresiasi atas upaya yang dilakukan para petani memanfaatkan limbah ternah sabagai pengganti pupuk kimia.
"Mengubah paradigma petani menggunakan pupuk organik memang tidak gampang, perlu waktu dan konsistensi untuk mengajak petani memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik," katanya.
Untuk mendukung hal tersebut, sejak periode 2024 pemerintah daerah telah melaksanakan sosialisasi ke petani untuk menggunakan pupuk organik, Bahkan Dinas terkait juga kami melakukan pembinaan dan pelatihan pemanfaatan pekarangan untuk membuat pupuk organik.
