Kelangkaan semen di Kalimantan Selatan dalam beberapa pekan terakhir belum berpengaruh terhadap pengerjaan proyek pemerintah di daerah itu.


Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Provinsi Kalsel Arsyadi di Banjarmasin, Rabu, mengatakan, saat ini sebagian besar pengerjaan proyek pemerintah memasuki tahap "finishing".

Dengan demikian, kebutuhan terhadap semen tidak terlalu banyak seperti untuk pengecoran dan lainnya.

"Biasanya beberapa perusahaan besar telah melakukan stok untuk pembangunan jangka panjang, sehingga begitu terjadi kelangkaan seperti saat ini tidak terlalu kaget," katanya.

Kendati sempat berpengaruh terhadap pengerjaan proyek, namun bisa segera diatasi dengan baik.

Namun, kata dia, bila ada beberapa perusahaan masih memerlukan semen dalam jumlah banyak, itu telah menjadi risiko mereka untuk tetap menyelesaikan pengerjaan pembangunan sesuai dengan target yang ditetapkan.

Menurut Arsyadi, akibat kelangkaan semen yang terjadi beberapa waktu lalu membuat harga semen naik hingga beberapa persen.

"Tetapi kenaikan harga semen tersebut tidak akan mengubah nilai kontrak pembangunan kita, itu sudah menjadi risiko kontraktor," katanya.

Arsyadi membantah kelangkaan semen disebabkan karena perusahaan kontraktor mengejar waktu pengerjaan proyek pada akhir tahun untuk mengejar "deadline" atau batas waktu.

Sekretaris Pemprov Kalsel Mukhlis Gafuri berharap dinas dan instansi terkait segera melakukan koordinasi untuk melakukan pengecekan ke lapangan mengetahui penyebab terjadinya kelangkaan semen tersebut.

"Saya harap Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Perhubungan dan yang terkait lainnya melakukan koordinasi," katanya.

Jangan sampai, tambah Mukhlis, kelangkaan semen akan mengakibatkan terjadinya inflasi di daerah ini dan menjadi peluang bagi pedagang besar untuk mempermainkan harga.

Beruntung, tambah Mukhlis, kekhawatiran tersebut tidak terjadi karena hingga saat ini berdasarkan perhitungan BI Banjarmasin justru mengalami deflasi./B




Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026