Gubernur Kalimantan Selatan H Rudy Ariffin, meminta, pemerintah agar menunda pencabutan subsidi minyak tanah (mitan), terutama untuk provinsinya yang terdiri 13 kabupaten/kota dan berpenduduk sekitar 3,6 juta jiwa tersebut.
Permintaan orang nomor satu di jajaran pemerintah provinsi (Pemprov) itu menjawab pertanyaan wartawan, usai meresmikan Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalsel, di Banjarmasin, Selasa sore.
Pasalnya, menurut Gubernur Kalsel dua periode itu, masyarakat di provinsinya, sebagain besar masih belum siap dengan konversi mitan ke gas elpiji.
Selain itu, persiapan dari operator pemerintah, untuk konversi mitan ke elpij juga terkesan belum siap betul, seperti harga jual gas elpiji, terutama pada tabung isi tiga kilogram yang masih tak stabil dan terkadang kosong.
"Dengan pertimbangan atas beberapa hal tersebut, pemerintah hendaknya tetap menyalurkan mitan bersubsidi agar tidak menimbulkan keresahan masyarakat," pintanya didampingi Karo Humas Sekretariat Daerah Kalsel, Hermansyah.
"Kita menyambut positif terhadap program konversi mitan ke elpiji, tapi hendaknya dilakukan sosialsasi yang berkelanjutan dan lebih mantap lagi, serta persiapan-persiapan secara matang terlebih dahulu," demikian Rudy Ariffin.
Seiring rencana pemerintah mencabut subsidi mitan, masyarakat Kalsel yang sebagian besar masih menggunakan jenis bahan bakar tersebut, menjadi risau.
Kerisauan warga tersebut karena di satu sisi harga mitan akan semakin mahal dan sulit mencari jenis bahan bakar itu dan di sisi lain, harga gas elpiji belum stabil, yaitu terkadang lebih mahal dari harga subdisi.
Selain itu, suplai gas elpiji masih kurang normal, sehingga terkadang terjadi kelangkaan dan warga yang sudah menggunakan gas tersebut, sulit mencari.
Dari 13 kabupaten/kota di Kalsel, yang melaksanakan konversi mitan ke gas elpiji, baru Kota Banjarmasin, Banjarbaru dan Kabupaten Banjar. Tapi di tiga kota dan kabupaten itupun belum semua peduduk setempat melaksanakan konversi tersebut./shn
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.