Kekhawatiran pasangan calon gubernur/wagub Kalsel 2010 - 2015 itu terungkap dalam visi misi yang menjadi bahan kampanye mereka pada pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) 2 Juni 2010 Kalsel, demikian dilaporkan, Rabu.
Pasangan cagub/cawagub dari jalur independen itu memperkirakan ketersediaan batu bara Kalsel paling lama mampu bertahan selama 18 tahun dengan asumsi tingkat produksi rata-rata pertahun sebesar 95 juta ton.
Sementara situs resmi Pemprov Kalsel menyebutkan, tahun 2010 diharapkan produksi batu bara 97,4 juta ton dan 2011 diperkirakan mencapai 101,1 juta ton, ungkapnya.
Sedangkan siaran pers mantan Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro awal 2009 jumlah suber daya batu bara Kalsel sekitar 12 miliar ton dengan cadangan mencapai 1,669 miliar ton kemudian produksi batu bara Kalsel 2008 sebesar 68,2 juta ton terdiri 48,3 juta ton untuk ekspor dan 19,9 juta ton kebutuhan domestik.
"Delapan belas tahun bukan waktu yang lama oleh karena itu apa yang akan terjadi jika perkiraan benar-benar terjadi dan pengelolaan sumber daya alam kita masih sama seperti sekarang," tandasnya.
Hal itu sudah di depan mata tentu saja Kalsel akan kekurangan pasokan batu bara untuk pembangkit-pembangkit listrik yang menggunakan batu bara sementara disisi lain umur ekonomis pembangkit tersebut masih tersisa, lanjutnya.
Guna mengatasi pasokan batu bara tersebut, maka Kalsel terpaksa harus mendatangkan dari luar baik domestik maupun impor yang mengakibatkan Kalsel tak mempunyai keunggulan kompetitif lagi bila dibandingkan daerah lain.
"Memang susah menyangkal kenyataan bahwa saat ini paradigma yang digunakan dalam pengelolaan modal kekayaan alam kita adalah eksploitasi untuk mengejar nilai komoditi artinya penambangan batu bara besar-besaran yang setiap tahun produksinya terus meningkat itu sebagian besar untuk diperdagangkan," ujarnya.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.