"Tahun depan saya akan menganggarkan pembelian kapal keruk sampah seperti buldozer bawah tanah yang akan membersihkan seluruh sungai di Banjarmasin dari sampah," kata Wali kota Banjarmasin Muhidin, Minggu.
Menurut dia, tumbuhnya ilalang seperti tanaman ilung menjadi salah satu masalah serius sungai di Banjarmasin, karena tanaman tersebut sering menghalangi kelancaran arus aliran sungai.
Kondisi tersebut, kata dia, harus segera dicarikan jalan keluar dengan baik, sehingga sungai Barito maupun Martapura benar-benar bersih dari sampah maupun tumbuhan lainnya.
Dengan adanya kapal "buldoser" tersebut, kata dia, petugas akan lebih mudah menyingkirkan tanaman ilung tersebut ke pinggiran sungai, dan selanjutnya diolah menjadi pupuk organik.
Selain itu, kata dia, mengurangi pencemaran sungai Barito dan Sungai Martapura dari limbah rumah tangga maupun limbah lainnya, Pemkot Banjarmasin juga akan mengefektifkan kerja Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarmasin.
Melalui PD IPAL, kata dia, akan dilakukan penyedotan air limbah rumah tangga untuk selanjutnya diolah untuk menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, seperti pupuk dan lainnya.
Dengan penyedotan dan pengolahan tersebut, kata dia, limbah rumah tangga tidak lagi dibuang ke sungai, sehingga pencemaran air bisa ditekan dengan semaksimal mungkin.
Pernyataan Muhidin tersebut menanggapi pernyataan Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta yang mengatakan pencemaran berbagai macam limbah di sungai Martapuran dan Barito kini sudah cukup tinggi.
Pada kesempatan sama, Hatta mengatakan, dari hasil penelitian sebagian besar sungai di Kalsel tercemar kadar e-coli cukup tinggi.
E-coli adalah jenis bakteri coliform tinja biasanya ditemukan di usus hewan dan manusia, E-coli adalah singkatan dari Escherichia coli.
Bakteri E-coli dalam air berasal dari pencemaran atau kontaminasi dari kotoran hewan dan manusia. Kotoran dapat berisi banyak jenis organisme penyebab penyakit.
Tingginya kadar e-coli dan pencemaran berbagai limbah berbahaya di sungai Banjarmasin, menyebabkan indeks kesehatan lingkungan hidup Kalsel berada diurutan ke-26 dengan IKLH 48,25 dari 28 provinsi.
Sementara dua provinsi terbawah adalah Kalimantan Tengah (45,70) dan DKI Jakarta (41,73).
Buruknya IKLH Kalsel, kata Hatta, tidak lepas dari sumbangan buruknya kualitas air.
Dari tiga aspek penilaian yaitu kualitas air, kualitas udara dan tutupan hutan yang indeksnya terburuk adalah kualitas air dengan indeks 8,40.
Jika dibandingkan dengan Sulawesi Utara dan Gorontalo yang IKLH-nya terbaik se Indonesia dengan indeks kualitas airnya 83,06, maka indeks kualitas air Kalsel masih sangat jauh.
Penyebab buruknya kualitas air akibat dari pencemaran berbagai zat berbahaya seperti raksa dan e-coli.
Sebelumnya, Direktur Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarmasin, Muhammad Muhidin, menargetkan pada 2028 Banjarmasin bebas limbah.
Menurut Muhammad, diperkirakan lebih 70 persen penduduk ibukota Kalsel tidak mengelola limbah dengan sistem yang baik serta sempurna.
PD PAL Banjarmasin saat ini memiliki hampir tiga ribu sambungan pipa baik ke perkantoran maupun ke perumahan masyarakat.
Sistem pengelolaan limbah yang ada di Kota Banjarmasin pada umumnya saat ini adalah sistem setempat yang terdiri dari cubluk, jamban keluarga atau jamban bersama dengan septic tank.
: Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.