Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Banjarbaru menghimbau warga Provinsi Kalimantan Selatan mewaspadai cuaca ekstrem yang bisa muncul setiap saat.
        
"Kami mengimbau warga Kalsel mewaspadai cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai sambaran petir dan tiupan angin kencang," ujar Kepala  Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Banjarbaru, Sucantika Budi, Minggu.
        
Sejak sebulan terakhir, kondisi cuaca hampir di seluruh wilayah Kalsel tergolong ekstrem berupa hujan lebat disertai sambaran petir, dan dikhawatirkan diikuti tiupan angin kencang atau puting beliung.
        
Ia mengatakan, cuaca ekstrem bisa muncul setiap saat dipicu pola konstan musim kemarau basah yang melanda hampir seluruh wilayah Kalsel dan diprediksi berlangsung hingga akhir tahun memasuki pergantian ke musim hujan.
        
"Sesuai sifat musim kemarau basah maka potensi hujan masih tetap tinggi dan kondisi itu diprediksi terus berlanjut hingga memasuki musim hujan yang diperkirakan berlangsung mulai akhir tahun," ungkapnya.
        
Bahkan, kata dia, sejak awal Oktober hingga akhir tahun, curah hujan diprediksi mengguyur hampir seluruh wilayah Kalsel dengan intensitas tinggi antara normal dan diatas normal.
        
"Sejak awal Oktober hingga akhir tahun, curah hujan diprediksi tinggi dengan intensitas normal dan diatas normal antara 200-350 mili liter dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Desember hingga Februari 2011," ujar dia.
        
Dikatakan, kewaspadaan masyarakat hendaknya ditingkatkan ditengah tingginya curah hujan itu mengingat cuaca buruk ditandai dengan hujan lebat disertai sambaran petir dan angin kencang berpotensi muncul.
        
Saat hujan lebat turun, kata dia, potensi munculnya petir sangat besar termasuk tiupan angin kencang yang sifatnya merusak walau dampak kerusakan hanya terjadi di daerah lokal atau skala kecil.
        
Dijelaskan, banyaknya sambaran petir di wilayah Kalsel karena posisi yang berada dekat dengan garis Khatulistiwa (Equator) atau tepat pada posisi pembelokan arah angin.
        
"Posisi wilayah Kalsel berada dekat garis Khatulistiwa dan diatasnya tepat di arah pembelokan angin sehingga saat hujan turun sering muncul petir dan angin puting beliung," jelasnya.
        
Sedangkan angin puting beliung, disebabkan awan Comolunimbus atau awan pembentuk hujan yang mampu membentuk suhu udara panas dan lembab sehingga muncul gerakan awan tidak beraturan dan memicu meningkatnya kecepatan angin.
        
"Kecepatan angin cukup tinggi dan mampu merusak semua benda di sekitarnya. Namun, daerah atau kawasan yang terkena dampak kerusakan relatif kecil dan umumnya melanda kawasan lokal radius 5-10 kilometer," katanya.


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026