Harapan tersebut dia kemukakan sebelum Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) PPP Kalimantan Selatan (Kalsel) di Banjarmasin, Senin sore, sehubungan Pilkada Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dan Barito Kuala (Batola) 2017.
Tapi, lanjut mantan Gubernur Kalsel dua periode itu, kalau PPP belum satu atau masih seperti keadaan sekarang maka partai politik (parpol) berlambang ka`bah mungkin tidak bisa berpartisipasi pada pilkada HSU dan Batola.
"Oleh sebab itu, kita berharap Muktamar VIII PPP di Pondok Gede Jakarta, 8-11 April 2016 bisa betul-betul islah, menyatukan kembali PPP," lanjutnya menjawab wartawan yang tergabung dalam Journalist Parliament Community (JPC) Kalsel.
Mengenai skenario politik menghadapi pilkada HSU dan Batola, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Kalsel dua periode itu mengaku menyadari akan kekuatan parpolnya.
Sebagai contoh di "Bumi Agung" HSU dari 35 kursi/keanggotaan DPRD kabupaten tersebut PPP hanya mendapat empat, walau sebagai pemenang kedua, namun tak bisa mengusung sendiri.
Begitu pula di "Bumi Salidah" Batola, dari 35 kursi/keanggotaan DPRD di daerah persawahan pasang surut dan merupakan daerah penerima transmigran itu, PPP juga hanya mendapatkan satu.
Sementara pada dua Kabupaten HSU dan Batola selaku pemenang atau peraih terbanyak kursi/keanggotaan DPRD setempat saat Pemilihan Umum (Pemilu) 2014.
"Demikian pula halnya pada Pemilu 2009 Partai Golkar pemenang di HSU dan Batola. Tapi saat pemilihan kepala daerah setempat Partai Golkar dan PPP berkoalisi," ujar Rudy didampingi putranya, HM Aditya Mufti Ariffin-anggota DPR RI dari PPP.
Ia menyatakan, belum tahu pasti, apakah pada pilkada serentak tahap II seluruh Indonesia yang dijadwalkan Februari 2017, untuk HSU dan Batola berkoalisi kembali Partai Golkar dengan PPP.
"Rapimwil yang kami adakan sekarang untuk menentukan arah politik PPP menghadapi Pilkada HSU dan Batola. Tapi yang jelas PPP tak bisa mengusung sendiri calon bupati pada dua kabupaten tersebut, kecuali berkoalisi," demikian Rudy Ariffin.
Pewarta: SukarliEditor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.